Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan

Setiap akhir Maret, saya selalu menerima laporan informasi saldo Jaminan Hari Tua (JHT) yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan. Dalam laporan terakhir yang saya terima, saldo JHT milik saya sampai akhir 2015 tercatat senilai Rp9,49 juta.

Dana sebesar itu merupakan hasil pengumpulan iuran yang setiap bulan dibayarkan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Besarnya iuran adalah 5,7% dari upah alias gaji pokok ditambah tunjangan tetap. Sebanyak 3,7% ditanggung oleh perusahaan, dan sisanya 2% dipotong dari gaji saya. Ketika gaji naik, secara otomatis jumlah iuran akan naik.

Saldo yang saya miliki memang tidak terlalu banyak, karena baru dimulai sejak 15 Oktober 2013, ketika saya diangkat sebagai pegawai tetap. Sebelumnya, saya tidak pernah memiliki rekening JHT. Semakin hari, jika saya terus bekerja, dana iuran akan terus bertambah, maka rekening JHT pun akan terus berkembang.

Dana JHT akan tetap utuh ketika saya, misalnya, berpindah kerja ke perusahaan lain atau memutuskan berwirausaha, atau malah berhenti bekerja sama sekali. Sebab, rekening JHT ditulis atas nama saya pribadi, bukan atas nama perusahaan.

Apa sih untungnya punya rekening JHT?  Seorang yang saya kenal baik pernah mengeluhkan gajinya yang dipotong untuk ini-itu, termasuk JHT. Dia menilai potongan ini hanya membebani saja, dan mengurangi gaji yang seharusnya bisa dibawa pulang.

Dilihat dari fitrahnya, dana JHT merupakan dana yang dipersiapkan untuk menjamin hari tua agar tidak terlunta-lunta. Artinya, dana itu seyogyanya dicairkan ketika seseorang sudah memasuki masa pensiun, alias 56 tahun.

Dana JHT juga akan langsung dibayarkan kepada pemilik rekening JHT ketika yang bersangkutan menderita cacat total tetap atau meninggal dunia. Ketika meninggal dunia, dana itu akan diberikan kepada ahli waris, dengan urutan sebagai berikut: janda/duda, anak, orangtua, cucu, saudara kandung, mertua, dan pihak yang ditunjuk dalam wasiat. Jika tidak ada ahli waris dan wasiat, maka dana itu akan dikembalikan ke Balai Harta Peninggalan.

Di luar mekanisme resmi itu, dana JHT juga bisa dicairkan sebelum masa pensiun tiba. Tapi ada syaratnya.

Peserta program JHT dapat mencairkan seluruh dana miliknya ketika terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), mengundurkan diri dari pekerjaan, atau meninggalkan Indonesia untuk selamanya. Tahun lalu, seorang teman memutuskan mencairkan rekening JHT miliknya sesaat setelah mengundurkan diri dari pekerjaan. Uang yang didapatnya kemudian dia gunakan untuk membeli tiket pesawat ke Australia dan membiayai hidup di bulan pertama dia tinggal di sana.

Dana program JHT juga dapat dicairkan sebagian, ketika masa kepesertaan telah mencapai setidaknya 10 tahun. Saya sendiri belum bisa melakukan itu, karena saya baru terdaftar di program ini sejak 2,5 tahun lalu.

Sebagian dana JHT dapat dicairkan selama mengikuti aturan yang berlaku, yakni, diambil maksimal 10% dari total saldo sebagai persiapan usia pensiun. Pilihan lainnya, diambil maksimal 30% dari total saldo untuk uang muka pembiayaan perumahan alias untuk membayar DP rumah. Menurut saya pribadi sih ini oke banget.

Tapi perlu dicatat, pencairan sebagian dana JHT hanya dapat dilakukan sekali selama menjadi peserta ya. Tidak bisa berkali-kali dicairkan, karena memang tujuannya buat simpanan di hari tua.

Kembali lagi ke soal pertama tadi. Kenapa sih harus ikut program JHT, yang berakibat pada pemotongan gaji setiap bulan? Seolah-olah kita dipaksa menabung untuk hari tua lewat program ini, padahal kan bisa kita menabung sendiri….

Saya sendiri tak tahu jawaban pastinya. Hehe. Saya ikut program ini karena memang sudah otomatis gaji saya dipotong. Tidak bisa tidak. Jika perusahaan tidak mengikutkan karyawannya dalam program ini, maka perusahaan akan mendapatkan sanksi. Ya sudah to, lha wong tidak ada pilihan 🙂

Meskipun tidak punya pilihan, tapi saya tidak menyesal ikut program ini. Toh, pada akhirnya, saldo rekening JHT akan menjadi milik saya sendiri.

Selain itu, dana hasil pengembangan JHT juga lumayan. BPJS Ketenagakerjaan, selaku penyelenggara program ini, diwajibkan menjaga dana iuran yang terkumpul dan mengembangkannya agar jangan sampai kalah dengan inflasi. Menurut aturan, hasil pengembangan JHT paling sedikit sebesar rata-rata bunga deposito counter rate bank-bank pemerintah.

Nah, menurut laporan saldo yang saya terima pada akhir Maret lalu, hasil pengembangan rekening milik saya adalah sebesar  6,49%. Sebagai pembanding, saat ini saya memiliki rekening deposito 3 bulan dengan bunga 6,25% pertahun. Lumayan kan, hasil pengembangan dana JHT ternyata tak kalah dibandingkan bunga deposito.

Saya menganggap dana JHT sebagai tabungan. Sebagaimana saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya telah memiliki rekening reksadana yang khusus saya siapkan untuk masa pensiun. Nah, rekening JHT akan menambah itu. Mudah-mudahan, dengan semua persiapan ini, masa tua saya tidak akan merepotkan orang lain.

Pengalaman Tes IELTS di Jakarta

Mempersiapkan Dana Menikah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *