Tentang IKF VI dan Mengapa Saya Perlu Datang ke Sana

gambar diambil dari Selular ID

Sepanjang perjalanan menjadi wartawan harian bisnis dan ekonomi selama hampir lima tahun, sudah tak terhitung kesempatan saya menghadiri konferensi ataupun forum diskusi. Biasanya, saya menghadiri acara-acara tersebut karena tertarik dengan isu yang dibahas. Namun terkadang, saya datang semata-mata mencari kesempatan untuk menemui narasumber yang kebetulan menjadi pembicara di acara.

Indonesia Knowldge Forum (IKF) VI 2017 yang diselenggarakan oleh Bank BCA adalah salah satu seminar yang ingin saya hadiri. Mengapa? Alasan utamanya adalah karena ada Pak Jahja Setiaatmadja hehehe.. Pak Jahja ini salah satu narasumber favorit saya, dan pasti juga menjadi andalan sebagian besar wartawan lain yang sehari-hari menulis tentang isu perbankan.

Selain demi kepentingan pekerjaan, saya tertarik menghadiri IKF karena beberapa alasan pribadi. Pertama, tema yang dibahas kali ini sangat menarik minat saya, yakni tentang start-up di era digital.

Bukankah sudah ada banyak sekali seminar membahas start-up berikut segala permasalahan, tantangan dan potensinya, dibedah dari segala macam sudut pandang? Ya, tentu saja. Hal yang membuat IKF berbeda dibandingkan seminar-seminar serupa adalah kesempatan untuk bertemu dan melihat sejumlah usaha rintisan yang saling berjejaring untuk berkembang, di satu tempat dan waktu yang bersamaan. Sebab di event ini, tak hanya ada seminar di mana orang duduk takzim mendengarkan pembicara. Di venue, akan ada pameran pada start up yang menampilkan karya mereka. Siapa tahu saya jadi terinspirasi ya kan….

Sebagai pelaku start-up yang masih sangat ‘hijau’ dan haus pengalaman, saya tentu perlu mendengar banyak pengalaman orang-orang yang telah terlebih dahulu bergerak-gagal-jalan lagi-gagal lagi-terus bergerak sampai akhirnya berhasil. Saya harus bisa menyerap energi para pelaku usaha rintisan itu dan belajar dari mereka tentang banyak hal. Utamanya tentang teknik pemasaran digital.

Saya sedang merintis usaha penjualan terakota—please kindly check @terakotajawa (numpang promo :p). Sejauh ini saya baru mengandalkan media sosial untuk memperkenalkan produk dan berjualan, tapi menurut saya itu belum cukup.

Menghadiri IKF, saya ingin mendapatkan insight mengenai bagaimana merumuskan strategi penjualan barang yang relatif ‘berat’ seperti terakota agar bisa menarik di media sosial. Sebab, menurut beberapa artikel yang saya baca, biasanya medsos hanya efektif untuk berjualan hal yang ‘ringan’ seperti pakaian, makanan, dan pernak-pernik.

Kafe BCA

Alasan lain yang membuat saya tertarik menghadiri IKF adalah karena saya sudah dapat bocoran mengenai beberapa hal yang penting didalami lebih lanjut dalam seminar selama dua hari tersebut. Kisi-kisi penting sudah disampaikan dalam acara obrolan serius tapi santai di Kafe BCA bersama Pak Henry Konaefi, Faisal Basri, dan beberapa narasumber yang akan hadir sebagai pembicara di IKF nanti.

Pak Faisal Basri telah memberikan latar belakang mengenai tantangan dan peluang pengembangan ekonomi digital melalui perspektif ekonom yang sarat dengan data dan statistik. Inti dari paparan Pak Faisal yang saya tangkap sih kurang lebih begini: infrastruktur pendukung e-commerce belum siap dan itu seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Tapi, sebagai orang kreatif, kita tetap harus bergerak biar bagaimanapun kondisinya, karena peluang sangat besar. Berdasarkan data, pengguna Internet di Indonesia itu nomor 5 paling banyak di dunia, sedangkan nilai transaksi e-commerce baru sekitar 1,22% dari total transaksi ritel. Artinya apa? Peluang masih banyak sekali!!! Tantangannya adalah, bagaimana caranya mengubah peluang itu menjadi kenyataan. Soal itu, mari kita belajar dari para praktisinya secara langsung.

Di IKF VI, akan ada sejumlah nama penting di dunia start-up. Ada Indra Wiralaksmana dari Ninja Express, Rusli Hidayat dari KlikACC, Sven Milder dari Etobee, Sanuk Tandon dari Kalibrr, Ardyanto Alam dari Garasi.id, dll dst.

Ada juga Mas Bram, eh, maksud saya Ashraf Sinclair. Ngapain Ashraf ada di forum start-up? Ternyata, suami dari artis Bunga Citra Lestari ini sudah cukup lama dikenal sebagai ‘Bapaknya Start-up‘, alias angel investor yang mau membiayai perusahaan-perusahaan rintisan berskala kecil yang dinilai potensial. Saya rasa menarik juga mendengar perspektif dari seorang investor mengenai start-up yang berpotensi berkembang di masa mendatang.

IKF VI ini akan diselenggarakan di ballroom The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, pada 3-4 Oktober 2017, mulai pukul 07.00-17.00 WIB.

See you there!

Merawat Toleransi Bersama Koperasi

Bermain dan Belajar Bersama Start-up di IKF VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *