Seperti Jodoh, Memilih Asuransi juga Tak Boleh Sembarangan

lorenso3

Sabtu petang menjelang Maghrib, akhir pekan kemarin, saya mempelajari polis asuransi milik Chabib, sambil mengunyah pizza tipis dengan tambahan keju ekstra. Dalam waktu kurang dari 30 menit, saya telah berhasil meyakinkan teman saya itu untuk membatalkan kontrak polis asuransi yang dibelinya.

Saya termasuk orang yang merasa asuransi penting. Saya membeli produk asuransi, dan dalam berbagai kesempatan mengajak teman-teman terdekat saya untuk berasuransi. Lalu mengapa saya meminta Chabib membatalkan polis asuransinya?

Alasan pertama dan paling utama adalah Chabib salah memilih produk asuransi. Dia membeli produk asuransi yang belum dibutuhkannya saat ini, dan justru melewatkan produk yang sangat dibutuhkan.

Chabib mengaku membutuhkan produk asuransi kesehatan, untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba sakit dan harus berobat ke dokter atau bahkan dirawat di rumah sakit. Namun, produk asuransi yang dibelinya justru asuransi jiwa dengan tambahan proteksi untuk risiko penyakit kritis.

Menurut berbagai referensi yang saya percayai, asuransi jiwa adalah produk yang cocok untuk kepala keluarga atau pencari nafkah utama dalam keluarga. Tujuan membeli produk ini adalah untuk memberikan proteksi kepada keluarga yang ditinggalkan jika kepala keluarga atau pencari nafkah utama meninggal dunia. Ketika pemegang polis asuransi jiwa meninggal dunia, maka keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan uang klaim asuransi jiwa, sehingga tidak terlunta-lunta.

Jika merujuk pada keterangan itu, maka Chabib bukan termasuk kategori orang yang membutuhkan produk asuransi jiwa. Dia belum menikah—meskipun mengaku bukan jomblo—dan tidak memiliki tanggungan keluarga yang harus dibiayai.

Selain asuransi jiwa, ternyata Chabib juga membeli proteksi tambahan (dalam dunia asuransi diistilahkan dengan rider) berupa asuransi penyakit kritis. Saat saya tanya kenapa dia membeli asuransi penyakit kritis, dia mengaku tidak terlalu paham. “Kata CS ini bisa digunakan untuk rawat inap,” katanya.

Memang, dalam polis disebutkan bahwa nilai klaim untuk rawat inap adalah Rp500.000 perhari, dengan batas maksimal masa opname yang ditentukan. Namun tidak ada penjelasan secara detail bahwa biaya rawat inap itu baru akan diberikan jika pemegang polis menderita penyakit kritis, bukan penyakit ‘biasa’ semacam batuk, pilek, demam, atau tipes.

Apa itu penyakit kritis? Setiap perusahaan asuransi memiliki definisi berbeda-beda mengenai definisi dan kriteria penyakit kritis.

Dalam salah satu kesempatan launching produk asuransi penyakit kritis beberapa waktu lalu, saya sempat bertanya mengenai definisi dan kriteria penyakit kritis kepada dokter spesialis yang menjadi konsultan ahli salah satu perusahaan asuransi. Jawaban dokter itu membuat saya cukup terhenyak.

Menurut sang dokter, di antara jenis penyakit yang masuk dalam kriteria penyakit kritis adalah jantung koroner, stroke, gagal ginjal, dan kanker. Artinya, jika pemegang polis asuransi penyakit kritis mengalami sakit dan harus dirawat di rumah sakit namun bukan disebabkan oleh salah satu dari empat penyakit itu, maka dia tidak bisa mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi. Alias dia harus membayar biaya rumah sakit dari kantong pribadi.

Pun, jika pemegang polis asuransi penyakit kritis terpaksa opname akibat salah satu dari keempat penyakit itu, tidak serta merta klaim dapat diajukan. Sebab, setiap perusahaan asuransi punya kriteria sendiri untuk menentukan apakah penyakit yang diderita oleh pemegang polis benar-benar telah memasuki fase “kritis” sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan asuransi.

Ketika, misalnya, seorang pemegang polis menderita gagal ginjal tetapi hanya pada satu ginjal sedangkan ginjal satunya lagi masih bisa berfungsi baik, maka harus dipastikan apakah kondisi ini sudah masuk dalam kriteria penyakit kritis menurut definisi perusahaan asuransi.

Demikian pula, ketika seorang pemegang polis menderita kanker namun baru masuk stadium 1 atau 2, atau bahkan 3, belum tentu kondisi itu sudah termasuk dalam kategori penyakit kritis menurut perusahaan asuransi.

Sayangnya, penjelasan lengkap dan detail mengenai hal ini seringkali tidak didapatkan oleh calon nasabah. Tenaga pemasar asuransi, entah dengan alasan apa, tidak menjelaskan produk secara detail sampai calon nasabah benar-benar paham.

Contoh nyatanya ya Chabib, teman saya itu. Dia tidak menyangka jika polis asuransinya hanya memproteksi risiko penyakit kritis, karena pada saat membeli, tenaga penjual tidak menjelaskan secara detail. Chabib hanya diberitahu bahwa “(asuransi) ini bisa digunakan untuk rawat inap”, tanpa dijelaskan lebih lanjut bahwa rawat inap yang dimaksud adalah rawat inap akibat penyakit kritis.

Saya meyakini ada banyak sekali nasabah atau calon nasabah asuransi yang mengalami kondisi serupa dengan Chabib: tidak mendapatkan informasi yang jelas dan tuntas. Akibatnya, salah beli produk, dan merasa kecewa ketika akhirnya gagal mengajukan klaim atau klaim tidak dibayar.

Menurut aturan yang berlaku, setiap tenaga pemasar produk asuransi diwajibkan mendapatkan lisensi. Tujuannya, untuk memastikan mereka benar-benar memahami produk yang dijual dan mampu memberikan informasi yang tepat kepada calon nasabah. Namun pada kenyataannya, calon nasabah seringkali masih belum mendapatkan haknya menerima informasi yang dibutuhkan.

Di sini lah letak pentingnya bersikap kritis. Teliti sebelum membeli. Jangan mudah percaya dan mengiyakan apapun yang dikatakan tenaga pemasar.

Jika mau sedikit repot, carilah informasi yang dapat diakses secara gratis melalui mesin pencari. Sesederhana mengetik kata kunci “asuransi penyakit kritis”, lalu Google akan mengarahkan kita ke informasi terkait penyakit kritis dalam ruang lingkup asuransi.

Beberapa di antaranya:

  1. https://www.cigna.co.id/id/html/html/produk-cigna/asuransi-penyakit-kritis/cigna-critical-illness-protection.html
  2. https://www.aig.co.id/personal/kecelakaan-diri-kesehatan/critical-care
  3. http://www.cimbsunlife.co.id/id/critical-illness-series-id
  4. http://www.asuransi-jiwa.org/produk-allianz/manfaat-tambahan-rider/asuransi-49-penyakit-kritis-ci-dan-ci/

Sekali lagi, jangan pernah lelah mencari informasi, agar produk asuransi yang kita beli benar-benar bermanfaat.

xxxxxxxxx

Update dari Chabib. Ternyata teman saya itu berubah pikiran, berselang tak lebih dari 24 jam sejak dia menyatakan akan membatalkan polis asuransinya.

“Eh”

“Aku rasido batalke lho”

“Wkwkwkwk”

“……..”

“Heheheh… Sori ya. Aku galau,” katanya.

Baiklaaaahhhhh………. #akurapopo

Jaminan Pensiun Bukan Cuma Buat PNS

Pengalaman Tes IELTS di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *