Menyisihkan Anggaran untuk Kosmetik

brushes

Saya bukan tipe perempuan penggila make-up. Tapi, sekalinya kena ‘demam’ make-up, saya bisa menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli beberapa lipstik sekaligus, ditambah foundation, concealer, bedak, perona pipi, eye primer, eye shadow, eye liner, pensil alis, maskara, brush, dan beauty blender. Heuheuheu..

Untungnya, ‘demam’ dandan baru sekali ini terjadi. Untungnya lagi, demam itu terjadi pas saya punya uang ekstra dari THR dan sisa anggaran bulanan yang tak terpakai. Beruntung pula, suami pas kebetulan mengirim uang tambahan “buat beli lipstik atau pensil alis”. Major LOVE!

Sejak remaja, saya tidak pernah akrab dengan make-up. Peralatan dandan yang saya punya hanya sebatas bedak tabur, lipstik, dan maskara. Itu pun jarang digunakan. Satu lipstik yang saya beli pada 2013 bahkan masih awet sampai sekarang.

Saya justru—sedikit—lebih perhatian pada perawatan kulit. Tepatnya sejak kulit saya bermasalah akibat tidak cocok dengan udara Jakarta, saya jadi memperhatikan urusan kulit. Untuk mandi dan cuci muka, sedapat mungkin saya memilih produk sabun alami nondeterjen nonpewangi. Saya juga rajin menggunakan pelembab setiap kali selesai mandi dan cuci muka. Serum wajah juga saya selalu pakai sebelum tidur.

Namun sejak beberapa bulan terakhir, tepatnya ketika saya dipindahtugaskan ke divisi TV, saya mulai terekspos dengan alat-alat dandan. Selama hampir dua bulan saya bertugas menjadi pembawa acara di studio, sehingga, mau tak mau, saya harus belajar mengaplikasikan bedak dan teman-temannya, agar tampilan wajah tidak kusam di kamera. Awalnya malas sekali, karena dibutuhkan waktu sekitar 30 menit hanya untuk memoles wajah. Eh tapi lama-lama kok ketagihan. Eaaaa…

Saat belajar mengaplikasikan make-up itu pula lah saya seringkali menonton video tutorial berdandan yang sangat mudah ditemukan di Youtube. Dari video Youtube, berlanjut ke beauty blog yang mengulas beragam produk. Saya pun semakin akrab dengan alat-alat ‘lenong’, meski baru pada tahap beginner jika merujuk pada istilah yang sering digunakan oleh para beauty guru di internet.

Nah, karena sejak dulu tidak akrab dengan make-up, maka saya tidak menyiapkan anggaran khusus untuk belanja pernak pernik perlenongan itu. Lipstik saja bisa tahan sampai lebih dari tiga tahun, bedak dan maskara awet bahkan sampai kadaluarsa, ya buat apa menyisihkan dana khusus untuk membeli kosmetik. Begitu pikir saya dulu. Dulu… Sekarang lain lagi!

Belajar pada pengalaman ‘demam belanja make-up’ tempo hari, saya jadi berpikir untuk mulai menyisihkan sedikit dari uang bulanan untuk jaga-jaga jika tiba-tiba pengin beli lipstik lucu. Atau brush baru. Atau bedak. Apapun.

Setelah me-review rancangan anggaran belanja bulanan yang saya buat untuk periode Agustus, sayangnya, saya tidak menemukan celah untuk anggaran kosmetik ehehehe… Ternyata bulan depan waktunya mengencangkan ikat pinggang karena ada satu keperluan khusus yang membutuhkan anggaran ekstra. Suami saya seringkali mengistilahkannya sebagai kondisi ‘angin sedang kencang’.

Oke, angin sedang kencang, dan saya harus bertahan. Tapi gimana dong kalau tiba-tiba kepingin banget beli lipstik baru? (yap, saya paling suka beli lipstik dibandingkan kosmetik lainnya)

Hm, hm, hm… Saat ini, saya baru menemukan satu solusi, yakni menggunakan cara lama: menabung recehan. Setiap kali menemukan uang receh logam pecahan seribuan, saya segera menyisihkannya. Sejauh ini lumayan, sudah terkumpul Rp17.000 dalam waktu sekitar satu bulan. Lumayan lah ya… 😀

Mengelola Dana THR

Kuparkir Motor dengan Bismillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *