Menjaga Tuah Waduk Kedung Ombo

kedungombo1

Musim kemarau basah tahun ini disyukuri dengan sungguh oleh Wardi. Hujan yang masih turun secara teratur di wilayah Jawa Tengah membuat petani tidak membutuhkan tambahan aliran air irigasi dari Waduk Kedung Ombo. Kondisi ini membuat proses rehabilitasi saluran irigasi yang berbasis di waduk tidak terinterupsi, sehingga diharapkan bisa selesai tepat waktu.

Wardi adalah Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Sidorejo, Kabupaten Grobogan. Salah satu tugasnya memastikan setiap petani di wilayahnya mendapatkan cukup air untuk bercocok tanam. Wardi menjadi wakil petani untuk berkomunikasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana yang merupakan pengelola sistem irigasi Waduk Kedung Ombo.

Sejak akhir 2015, proses rehabilitasi saluran irigasi telah dimulai. Rehabilitasi diharapkan mampu meningkatkan volume aliran air waduk agar sepenuhnya sampai ke sawah milik petani.

Saat ini, menurut Wardi, aliran air irigasi dari waduk tidak lagi efisien. Sedimentasi menggerus kapasitas waduk, saluran induk, saluran primer, hingga saluran sekunder yang mengalirkan air irigasi. Tumpukan lumpur, tanah, juga sampah, mengikis dinding beton yang melapisi saluran irigasi sehingga menyebabkan aliran air dari waduk merembes ke luar sebelum sampai ke sawah petani.

Setelah dua puluh tahun menunggu, sistem irigasi Waduk Kedung Ombo akhirnya direhabilitasi. Proyek ini merupakan bagian dari program rehabilitasi saluran irigasi nasional yang mengairi 3 juta hektare lahan persawahan.

Proyek yang didanai oleh Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) ini dilakukan secara bertahap mulai 2015-2018. Khusus untuk proyek rehabilitasi sistem irigasi Waduk Kedung Ombo, dana yang digelontorkan mencapai Rp1,6 triliun untuk periode empat tahun hingga akhir 2018.

Proses rehabilitasi hingga akhir September 2016 telah berjalan sekitar 35% dan diharapkan selesai sebelum musim tanam pertama 2018 dimulai. Pengaturan jadwal kerja harus dilakukan dengan cermat agar proses berjalan sesuai jadwal dan tidak mengganggu fungsi waduk yang bertugas mengairi sawah di musim tanam padi.

kedungombo2

TUMPUAN PETANI

Petani di Jawa Tengah pada umumnya bertanam padi dua kali setahun, diselingi satu kali bertanam palawija di musim kemarau. Di musim tanam pertama yang dimulai pada September-Oktober, aliran air irigasi Waduk Kedung Ombo berperan sebagai penyangga sampai musim hujan datang. Lalu, pada musim tanam kedua yang diawali pada Februari-Maret, air dari waduk diandalkan untuk memenuhi kebutuhan air di masa awal bertanam padi. Waduk Kedung Ombo baru bisa beristirahat ketika tiba musim kemarau saat petani mengambil jeda sejenak dari padi untuk menanam palawija. Tanaman palawija tidak terlalu membutuhkan banyak air, sehingga pintu-pintu air waduk tidak perlu dibuka.

Sistem irigasi Waduk Kedung Ombo menjadi tumpuan harapan para petani di Kabupaten Grobogan, Kudus, Pati, Demak, dan Jepara. Mereka membutuhkan pasokan air yang stabil untuk mengairi padi yang menjadi tanaman andalan dan mata pencaharian utama.

Kapasitas waduk yang mencapai sekitar 688 juta m3 mampu menjangkau 61.400 hektare lahan persawahan, juga menjadi sumber tenaga pembangkit listrik. Sejak selesai dibangun pada 1989, waduk seluas 6.576 km persegi ini telah menjalankan perannya sebagai penopang Jawa Tengah untuk tetap menjaga predikat sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Jawa Tengah pada 2015 mencapai 11,30 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 17,14% dibandingkan produksi pada tahun sebelumnya. Produksi padi di Jateng sejauh ini masih didominasi oleh padi sawah, yang pada 2015 mencapai 11,00 juta ton GKG atau berkontribusi sekitar 97,34% dari total produksi padi.

BENAHI HULU

Saat ini Wardi dan ribuan petani yang mengandalkan sistem irigasi Waduk Kedung Ombo sedang berlega hati. Proses rehabilitasi yang tengah berjalan membumbungkan harapan mereka untuk mendapatkan pasokan air yang melimpah di musim-musim tanam mendatang. Setelah menunggu dua puluh tahun, akhirnya harapan mereka terkabul.

Akan tetapi, kebahagiaan mereka mungkin tidak akan berlangsung lama jika permasalahan utama penyebab sedimentasi tidak dintuntaskan bersamaan dengan proses rehabilitasi sistem irigasi. Waduk yang dikeruk, saluran irigasi yang diperbaiki, akan kembali tergerus oleh sedimentasi ketika hulu Sungai Serang yang merupakan sumber air waduk tidak turut ditata. Demikian pula, sedimentasi waduk akan kembali menumpuk jika keramba-keramba tempat budidaya ikan yang berada di sejumlah titik waduk tidak dikelola sebagaimana mestinya.

Pengelola Waduk Kedung Ombo mengakui populasi keramba telah melebihi kapasitas daya tampung waduk. Pengelola juga merasakan penurunan kinerja waduk akibat sedimentasi yang bersumber dari hulu. Sekarang, ketika permasalahan di hilir sedang dalam proses rehabilitasi, sudah saatnya permasalahan di hulu juga turut dibenahi.

Flazz BCA Mempermudah Transaksi Sehari-hari

Trump Effect: Duh, Investasi Saya Digoyang Donald Trump!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *