Mengurus Mutasi Sepeda Motor Tanpa Calo

mutasi

Setelah menunda-nunda selama empat tahun, akhirnya, saya memutuskan untuk mengurus mutasi sepeda motor. Dari Jakarta ke Demak.

Saya mantap mengurus sendiri proses mutasi setelah mengetahui tarif pencabutan berkas–yang merupakan salah satu bagian dari rangkaian proses mutasi–melalui biro jasa layanan administrasi kendaraan (alias calo) adalah Rp950.000. Sebagai emak-emak yang perhitungan, saya ogah menggunakan jasa calo karena mahal sekali. Biaya resmi mutasi sepeda motor adalah Rp75.000.

Sejak dulu saya aras-arasen mengurus mutasi, karena terbayang ribetnya proses administrasi di kantor Samsat. Ditambah lagi, lokasi Samsat Jakarta Timur tempat sepeda motor saya didaftarkan jauh sekali, di daerah Kebon Nanas. Sebenarnya jauh itu relatif sih, karena jika ditarik garis lurus, jarak antara kantor Samsat Jakarta Timur dengan tempat tinggal saya di Palmerah ‘hanya’ sekitar 15 km. Akan tetapi, hal yang membuatnya tampak jauh adalah karena saya harus melewati beberapa titik kemacetan parah: Slipi, Semanggi, Kuningan, Pancoran, Cawang terus lurus sampai ke puteran Kebon Nanas.

Apa boleh buat, semua titik itu mau tak mau harus saya lewati karena saya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Pak Bos yang mengizinkan saya tidak liputan selama satu hari khusus untuk membereskan mutasi. Lagipula, saya juga terlampau lelah kalau harus dicegat polisi dan ditilang lagi gara-gara plat nomor mati dan tidak bisa diperpanjang karena saya tidak dapat lagi menemui pemilik sepeda motor saya terdahulu. Sejak membeli, saya memang belum membalik nama kepemilikan motor. Jadi saya masih bergantung kepada pemilik lama setiap kali membayar pajak tahunan. Nah, selama dua tahun terakhir, pemilik lama raib entah ke mana sehingga saya tidak bisa membayar pajak. Alhasil, STNK mati, plat nomor juga mati.

My bad!

Oke, kembali ke soal mengurus mutasi sepeda motor. Ternyata eh ternyata, prosesnya tidak sehoror yang saya bayangkan. Dari awal hingga akhir hanya membutuhkan waktu satu jam.

Tahap pertama dimulai dari cek fisik kendaraan. Saat pertama kali masuk ke area kantor Samsat, saya langsung mengikuti petunjuk arah menuju tempat cek fisik. Tempat cek terpisah antara sepeda motor dan mobil. Ada empat orang petugas yang membawa kertas dan pensil. Masing-masing orang menangani satu persatu kendaraan yang datang, sehingga prosesnya cepat sekali dan tidak ada antrean panjang.

Setelah selesai mengecek nomor mesin dan nomor rangka kendaraan, petugas dari bagian cek fisik menyerahkan formulir berisi kolom-kolom identitas kendaraan yang dilampiri kertas hasil uji tes fisik. Selesai dengan urusan itu, saya diminta memarkir kendaraan di tempat parkir.

Proses selanjutnya adalah pendaftaran. Ada tiga loket terpisah. Loket untuk mutasi, loket tukar nama alias balik nama, dan loket legalisir. Sebelum mengantre untuk mendaftar di loket mutasi, saya diminta mengisi formulir yang telah diserahkan oleh petugas cek fisik kendaraan, dan melampirkan dua kopian STNK, BPKB, KTP, serta STNK asli. Jangan khawatir bila lupa memfotokopi, karena di dalam kompleks kantor Samsat Jaktim tersedia kios fotokopi. Petugas fotokopi di sana juga sangat membantu untuk menyusun berkas agar pas sesuai dengan format yang dibutuhkan.

mutasi2

Proses mengantre di loket administrasi cukup singkat. Tak sampai 15 menit. Bahkan saya belum sempat menghabiskan sepotong Bengbeng ketika nama saya dipanggil untuk mengambil kembali berkas yang sudah terdaftar.

Urusan pendaftaran beres, saya lalu diminta mengumpulkan berkas ke petugas di lantai 2 gedung utama kantor Samsat Jaktim. Suasana cukup ramai, tapi tertib. Di pintu masuk gedung, ada sejumlah petugas yang memeriksa kembali setiap orang yang akan masuk. Mereka memastikan setiap orang sudah melengkapi seluruh berkas yang diperlukan. Saat tengah mengantre masuk, saya melihat ada satu orang yang diminta kembali ke loket pendaftaran karena belum melengkapi persyaratan.

Setelah melewati pemeriksaan di pintu masuk, saya bergegas naik ke lantai 2, tempat pengumpulan berkas untuk keperluan mutasi. Saya harus bergegas sebab saat itu sudah hampir memasuki waktu istirahat yang dimulai persis pukul 12.00. Jika terlambat sedikit saja, saya harus menunggu hingga waktu istirahat usai.

Untunglah saya masih memiliki tenggat waktu 10 menit. Cukup untuk mengambil formulir, mengisinya, lalu mengantre untuk mengumpulkannya kepada petugas, sekaligus membayar biaya mutasi senilai Rp75.000.

Urusan administrasi selesai. Petugas memberikan kuitansi, dan berpesan agar saya kembali untuk mengambil berkas mutasi pada 11 Januari 2017.

“Sudah selesai. Sekarang Mbak pulang saja ke rumah, lalu kembali lagi ke sini tahun depan,” katanya.

Ternyata sesederhana itu. Saya senang bisa mengurus sendiri administrasi mutasi tanpa bantuan calo sehingga jauuuuhh lebih irit. Saya juga bangga dengan kantor Samsat Jaktim yang bersih dari calo dan pungutan. Di banyak tempat di seantero gedung, ada tulisan yang menyebutkan bahwa segala pelayanan yang diberikan serbagratis. Biaya yang dibebankan kepada masyarakat benar-benar biaya resmi, sesuai dengan nilai yang tertera dalam kuitansi.

Samsat tampaknya sudah benar-benar berbenah.

Mencairkan Reksa Dana

Uang elektronik

Hidup Lebih Praktis dengan Transaksi Nontunai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *