Investasi Reksa Dana (2): Mencicil Masa Depan Mulai Sekarang

reksadana dua resize

Saya punya tiga rekening reksa dana, yang diterbitkan oleh tiga manajer investasi yang berbeda. Dua reksa dana saya beli pada Mei 2013, satu lagi menyusul setahun kemudian.

Selama kurun waktu itu, dua rekening reksa dana saya membukukan kenaikan tipis, masing-masing 2% dan 4%. Satu rekening reksa dana, yang saya beli belakangan, justru minus 11% ehehehehe..

Loh, rugi dong? Engga juga 😀

Menghitung rugi atau untung dalam berinvestasi tidak sesederhana itu sih. Ada banyak pertimbangan yang harus diperhitungkan.

Pertimbangan pertama, soal diversifikasi. Para perencana keuangan hampir selalu mengutip sabda Warren Buffet ini: don’t put your eggs in one basket, yang artinya jangan simpan seluruh uang di dalam satu tempat. Ibarat telur, kalau semuanya disimpan dalam satu keranjang, lalu ternyata keranjang wadah telur itu jatuh, ya ambyar semua.

Demikian pula dengan investasi. Investasi harus dibagi-bagi, misalnya di tabungan, deposito, obligasi, reksadana, logam mulia, saham, properti, atau apapun yang disuka. Pembagian ini penting, untuk meminimalkan risiko dan sekaligus meningkatkan peluang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Pertimbangan kedua, soal perbedaan fungsi investasi. Di postingan sebelumnya, saya sempat menyebutkan perbedaan fungsi tabungan dan deposito. Tabungan untuk cashflow, sedangkan deposito berfungsi memarkir dana yang sudah terkumpul namun belum akan digunakan segera.

Lalu bagaimana dengan investasi reksa dana? Mengutip istilah Ligwina Hananto, reksa dana adalah alat investasi yang akan membantu kita membeli masa depan dengan harga saat ini.

Penjelasannya kurang lebih begini. Reksa dana itu kan ibarat membeli saham dengan harga eceran. Dengan membuka satu rekening reksa dana, kita bisa membeli saham-saham andalan atau saham bluechips semacam Djarum, BCA, Telkom, Bintang, dll dst. Tentu saja porsinya kecil-kecil ya. Walaupun membeli saham dalam porsi kecil melalui reksa dana, tapi potensi untuk mendapatkan keuntungan sama besarnya ketika kita membeli saham dalam jumlah besar.

Pertimbangan ketiga, soal kemampuan keuangan. Jika saya punya uang dalam jumlah besar, tentu saya ingin berinvestasi di properti, atau membeli tanah, atau apapun. Tapi kan uang saya belum cukup. Hehehe.. Dengan berinvestasi di reksa dana, saya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dan pada saatnya nanti akan saya cairkan untuk membayar uang muka rumah :p

Membuka rekening reksa dana tergolong murah kok, mulai Rp100.000. Jika ingin menambah investasi (top up) juga bisa dimulai dengan Rp100.000. Caranya pun mudah sekali. Bisa langsung transfer melalui ATM, internet banking, mobile banking, atau cara tradisional lewat teller bank. Bisa juga dengan memanfaatkan fasilitas autodebet yang disediakan oleh bank, seperti yang saya lakukan.

Saya memilih sistem autodebet untuk ketiga rekening reksa dana saya. Setiap bulan, bank akan secara otomatis menarik sekian ratus ribu rupiah dari rekening tabungan saya untuk disetorkan ke rekening reksa dana. Jumlah nominal yang didebet telah disepakati di awal dalam perjanjian bermaterai. Jadi aman.

Sistem autodebet, bagi saya pribadi, sangat membantu agar bisa disiplin dalam berinvestasi. Jika tanpa autodebet, saya akan punya banyak sekali alasan untuk menunda menyetor uang ke rekening reksa dana. Lagi bokek lah, pengen liburan lah, ‘butuh’ dana untuk beli baju, sepatu, tas, buku… alasan akan selalu ada dan bisa dicari-cari ehehehehe… Karena itu, autodebet sangat membantu karena tidak ada lagi tawar-menawar, langsung saja ditarik di awal bulan.

Ternyata eh ternyata, belakangan baru saya ketahui kalau sistem autodebet ini juga sangat membantu stabilitas pasar modal dalam negeri *uhuk* dan meningkatkan potensi pendapatan.

Iya, autodebet membantu stabilitas di industri pasar modal, karena kita terus menyetor uang ke rekening reksa dana dalam kondisi apapun. Tidak peduli tren dana investasi pasar modal sedang naik atau turun, pokoknya hantam terus, investasi terus. Jika ada banyak orang yang berinvestasi seperti ini, niscaya kondisi pasar modal Indonesia akan lebih baik, karena tidak begitu saja terombang-ambing kondisi ekonomi global. Ah, jadi ngelantur panjang lebar…

Balik lagi ke pengalaman saya saja. Secara pribadi, menyetor dana setiap bulan secara rutin ke rekening reksa dana tanpa peduli indeks sedang naik atau turun membuat saya tidak mudah panik. Mau indeks naik atau turun, tidak peduli amat, karena toh saya belum akan memanfaatkan dana di rekening reksa dana itu. Jadi, walaupun di rekening saya tercatat nilai investasi turun, tapi penurunan itu belum dianggap rugi karena toh itu rekening belum saya cairkan. Rugi di kertas doang.

Justru, jika kita terus menyetor uang ke rekening reksa dana di saat indeks sedang jatuh, ketika harga-harga saham berguguran, maka kita akan dapat lebih banyak. Ibarat membeli barang saat pesta diskon (diskon beneran ya, bukan diskon jadi-jadian).

Ilustrasinya begini. Misalnya, ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) katakanlah berada pada level 5.000, harga-harga saham stabil, maka uang setoran saya senilai Rp500.000 ke salah satu rekening reksa dana akan setara dengan 250 unit investasi reksa dana. Ketika IHSG merosot ke level 4.500-an, harga-harga saham berjatuhan, maka uang setoran senilai Rp500.000 akan bisa dibelikan lebih banyak unit-unit investasi.

Unit-unit investasi ini cara kerjanya mirip saja dengan “barang” yang kita beli di toko. Ketika kita menyetor dana ke rekening reksa dana, artinya kita membeli “barang-barang” itu, untuk kemudian disimpan sampai waktu ketika kita mencairkan rekening reksa dana. Nah, jika kita membeli “barang” saat harga sedang rendah, lalu kita jual saat harga tinggi, maka keuntungan akan semakin besar. Kira-kira begitu.

Memegang prinsip itu, saya jadi tidak merasa khawatir berlebihan ketika IHSG sempat anjlok ke level 4.100-an dari posisi sebelumnya 5.226 pada akhir 2014. Tentu saja reksa dana saya terpengaruh ikut merosot juga. Tapi tak apa, toh saya belum akan mencairkan rekening itu, jadi ya tidak terhitung rugi. Sebaliknya, saya terus saja rutin menyetor setiap bulan, karena saya percaya kondisi ekonomi Indonesia akan membaik, dan terus membaik…

Investasi Reksa Dana: Pengalaman Pertama

Mendeteksi Jebakan Investasi Bodong

3 thoughts on “Investasi Reksa Dana (2): Mencicil Masa Depan Mulai Sekarang

  1. Pingback: Menyiapkan Pensiun dengan Reksadana | farodila

    1. Usulan ditampung. Secara prinsip sih aku engga cocok dengan istilah “asuransi sebagai investasi” karena menurutku fungsi asuransi berbeda dengan investasi. Asuransi untuk proteksi. Investasi untuk tabungan masa depan. Ditunggu penjabaran lengkapnya di edisi mendatang ya.. 😄😄👌👌

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *