Mengelola Dana THR

THR

Kembali ke Jakarta setelah berlebaran selama sembilan hari di Semarang, Pekalongan, Demak, dan Boyolali, saya masih menyisakan uang Rp407.000 di dompet. Alhamdulillah ada sisa dari dana yang sudah saya siapkan untuk kebutuhan selama lebaran.

Kok bisa ada sisa?

Setiap menjelang lebaran, saya selalu menyiapkan anggaran khusus. Ada pos anggaran untuk transportasi mudik, angpau adik-adik dan keponakan, untuk orangtua, baju lebaran untuk keluarga terdekat, sumbangan untuk orang-orang yang membantu kehidupan sehari-hari, oleh-oleh, dan tentu saja untuk kebutuhan diri sendiri. Di luar itu, saya juga menyiapkan dana untuk berjaga-jaga.

Seluruh kebutuhan itu saya siapkan dari dana tunjangan hari raya (THR), kecuali anggaran untuk membeli tiket mudik karena harus disiapkan tiga bulan sebelum hari H demi memastikan dapat kursi kereta/pesawat. Khusus lebaran tahun ini, saya mendapatkan bonus karena ada subsidi dari suami. Horeeee….

Dana THR dari kantor alhamdulillah selalu cukup. Dalam mengelola dana yang cair setahun sekali itu, saya menganut prinsip yang dipopulerkan oleh Ligwina Hananto, yakni bahwa dana THR memang harus digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan lebaran. Bahkan boleh dihabiskan. Menganut prinsip ini, saya jadi lebih enteng mengeluarkan uang untuk beli-beli ataupun bagi-bagi di hari raya. Syaratnya, semua pengeluaran harus terencana.

Sebelum THR cair, saya sudah menyiapkan pos-pos anggaran secara rinci, lengkap dengan nominal anggaran per-item. Saya juga menambahkan anggaran biaya hidup selama libur lebaran, dengan mengutip anggaran biaya hidup bulanan di luar THR. Tak lupa, saya siapkan dana untuk berjaga-jaga jika ada keperluan yang sebelumnya belum masuk dalam daftar anggaran yang disiapkan. Seluruhnya dihitung. Ternyata masih ada sisa untuk ditabung. Alhamdulillah…

Ketika pada akhirnya THR cair, saya segera mengalihkan sebagian uang sesuai dengan anggaran yang disiapkan ke rekening operasional. Sisanya tetap saya simpan di rekening tabungan. Dengan cara ini, saya bisa lebih mengontrol pengeluaran, karena dana yang tersedia di rekening operasional memang hanya disiapkan sesuai dengan kebutuhan, plus sedikit dana cadangan.

Selama sembilan hari mudik dan berpindah-pindah ke empat kota, dana cadangan yang saya siapkan ternyata tak seluruhnya terpakai. Untuk kebutuhan sehari-hari, saya madep mantep nunut suami. Hihihi… Dana cadangan itu kemudian hanya terpakai sebagian, ketika saya dan suami membeli sepasang batik sarimbit di Pasar Batik Setono Pekalongan.

Kembali ke Jakarta, saya menyisakan Rp407.000 di dompet. Karena ini adalah uang sisa, maka saya boleh menghabiskannya suka-suka. Semacam bonus untuk diri sendiri.

Saya sudah membayangkan ingin membeli steak tenderloin medium rare dengan saus jamur dan barbekyu. Saya juga kepikiran ingin membeli satu lagi celana panjang warna hitam, karena celana favorit saya kelunturan saat dicuci. Sayangnya, uang sisa yang tersedia tidak cukup untuk merealisasikan keduanya sekaligus. Saya harus memilih.

Di tengah kegalauan antara membeli steak atau celana, saya justru dengan cepat memutuskan untuk membeli tiket untuk pulang kampung (lagi!). Sebab hati dan pikiran masih tertinggal bersama suami di Semarang #halah

Tips Aman Bertransaksi di ATM

Menyisihkan Anggaran untuk Kosmetik

6 thoughts on “Mengelola Dana THR

  1. haoraaaaiii blog baru…ntar sering sering ke sini ah. maaf lahir batin, mbak Dila. THR ku tahun ini bisa buat beli tivi baru (karena yang lama sudah minta diganti karena rusak) hahaha. THR sudah seharusnya membawa berkah, ya mbak?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *