Mengelola Cashflow Bulanan

budget edit

Saya tak kenal tanggal tua. Begitu juga sebaliknya, saya juga tak kenal tanggal muda.. Haha. Buat saya, semua tanggal hampir sama saja, kecuali ketika tiba-tiba ada tambahan rejeki yang datang tanpa diduga.

Sebagai seorang salary person, atau orang yang masih mengandalkan gaji sebagai sumber pendapatan utama, saya hanya menerima gaji satu kali dalam sebulan. Setiap tanggal 27. Saya harus mengelola gaji dengan cermat agar bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok selama satu bulan, plus menabung untuk dana darurat, berinvestasi, dan tak lupa menyisihkan anggaran untuk bersenang-senang.

Cara saya untuk mengelola cashflow bulanan adalah dengan disiplin membuat anggaran. Setiap bulan, satu hari sebelum tanggal gajian, biasanya slip gaji sudah saya terima. Berdasarkan angka yang tertera di slip gaji itu, saya mulai membuat neraca sederhana yang mengatur rencana anggaran belanja untuk periode satu bulan ke depan.

Mengapa harus menunggu slip gaji datang untuk merencanakan anggaran belanja bulanan? Karena gaji saya berubah setiap bulan, tergantung pada banyaknya tanggal merah, hari libur, atau cuti yang saya ambil.

Saya pertama-tama menyiapkan anggaran untuk kebutuhan pokok yang harus dibayar setiap bulan, yakni uang kost, langganan parkir bulanan, londri, pulsa, dan ongkos pulang kampung.

Kemudian saya menetapkan anggaran uang saku harian yang harus cukup untuk makan, bensin, dan parkir. Biasanya saya batasi Rp35.000-Rp45.000 perhari, tergantung kondisi keuangan bulan itu.

Ketiga, dana investasi. Saat ini, anggaran investasi perbulan Rp1,6 juta, yang terbagi ke dalam tiga rekening reksadana.

Keempat, dana darurat. Tidak ada anggaran pasti untuk pos anggaran ini, lagi-lagi tergantung kondisi keuangan setiap bulan. Tapi biasanya ada setidaknya Rp500.000 yang bisa masuk ke pos dana darurat. Kadang lebih. Kadang tidak ada sama sekali hehehe…

Terakhir, dana untuk bersenang-senang. Pos anggaran ini sangat penting untuk membuat hidup tetap terasa indah 😀  Saya biasanya memanfaatkannya untuk menonton di bioskop atau makan-nongkrong-piknik cantik dengan teman-teman. Terkadang juga saya gunakan ini untuk membeli lipstik, baju baru, sepatu, atau buku-buku. Apapun yang saya suka. Tidak banyak yang dibutuhkan, sebenarnya, tapi penting.

Mungkin ada yang penasaran, kenapa saya tidak membuat pos zakat dalam anggaran bulanan? Memang tidak secara khusus ada, karena saya tidak mengikatkan diri ke dalam lembaga amil zakat tertentu. Saya biasanya hanya mengeluarkan sedekah, membagi sedikit rezeki, untuk diberikan kepada orang-orang di sekitar yang memang benar-benar membutuhkan namun belum terjangkau lembaga resmi. Atau apapun yang menggerakkan hati. Lebih spontan saja.

Untuk kebutuhan sedekah, biasanya saya ambilkan dari jatah uang saku harian. Jika jumlah yang dibutuhkan cukup besar, saya akan ‘berutang’ sementara ke rekening dana darurat, lalu akan saya kembalikan di bulan berikutnya.

Sejauh ini saya belum punya tanggungan cicilan. Jika ada kebutuhan yang membutuhkan biaya besar, saya biasanya akan membuat pos anggaran tambahan untuk mencicil di depan alias menabung khusus untuk menutup biaya khusus itu. Misalnya, untuk membeli ponsel baru, atau membayar biaya kursus, atau menyiapkan dana liburan.

Setelah membuat anggaran bulanan, apakah saya benar-benar disiplin mematuhinya? Sayangnya, tidak. Heuheuheuheu… Tidak 100% patuh, tapi bisa lah mendekati 90% bahkan 95%. Saya seringkali masih menjebol dana darurat untuk menutup kekurangan. Tak apa, karena saya memang memberi kesempatan untuk terjadinya ‘eror’ kecil semacam itu. Toh, kadang-kadang, saya justru membukukan surplus alias masih ada sisa uang dari anggaran yang sudah saya siapkan. Lagian, kalau terlalu kaku, saya malah bisa stress *pembenaran*

Cara ini terbukti cukup efektif untuk memastikan semua kebutuhan tercukupi hanya dari gaji. Jika ada tambahan pendapatan di luar gaji, biasanya saya akan mengambil sebagian untuk tambahan anggaran bersenang-senang, lalu sisanya disimpan. Rutin membuat anggaran dan berusaha mematuhinya juga menghindarkan saya dari paceklik di akhir atau pertengahan bulan. Sebab semua sudah ada perinciannya.

Oh iya, setelah semua anggaran jelas ke mana saja arahnya, saya lalu mentransfer dana yang dibutuhkan ke rekening operasional, dan menyisakan surplus yang ada di rekening penerima gaji yang sekaligus berfungsi sebagai tempat mengumpulkan tabungan jangka pendek. Jadi, saya punya 2 rekening. Rekening operasional dilengkapi dengan internet banking agar lebih lancar bertransaksi, sedangkan rekening gaji/tabungan hanya memiliki fasilitas dasar yakni ATM.

Selama ini, saya masih menggunakan coret-coretan manual di buku catatan untuk mengatur dan menghitung anggaran. Ada sih aplikasi online pengelola keuangan yang bisa diunduh di Playstore, seperti Mint, Expense Manager, atau Pencatat Keuangan. Kalau buat saya pribadi, tidak terlalu penting alatnya, yang terpenting adalah mematuhi komitmen yang sudah dibuat. Betul apa betul?

Berdaya Bersama Koperasi Gemah Sumilir

Ketika Kinerja Reksa Dana Tidak Sesuai Rencana

2 thoughts on “Mengelola Cashflow Bulanan

  1. Dilaaa… hahaha..

    Aku tertarik dengan point ketiga, dana investasi.
    Anggaran investasi perbulan Rp1,6 juta itu boleh tau nggak, tiga jenis reksadana apa aja? Trus besarnya masing-masing brp?
    *kepo bgt yak 😀

    Kebetulan aku menganggarkan 1,5 juta… tapi cuma di dua rekening.

    Reply
    1. reksadana saham semuaaaaa… aku sudah ngecek profil risikoku, ternyata memang masuk kategori investor agresif 😂😂😂😂

      aku punya tiga karena kepo. seharusnya cukup dua, karena kebutuhannya buat “dana pensiun” dan “beli rumah”. dana pensiun Rp300.000/bulan (tapi karena ‘kecelakaan pas ngisi lembar subscription’ jadi dobel nariknya). terus Rp1 juta/bulan buat tabungan beli rumah. satu juta ini harusnya cukup di satu rekening reksadana, tapi karena aku kepo pengen cobain produk produk reksadana, jd kubagi dua 😂😂😂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *