Mengapa Tidak Boleh Kirim Paket Berbungkus Kertas Koran?

posindo

Selamat Tahun Baru! Postingan pertama di tahun 2017 ini tidak ada hubungannya dengan isu finansial ataupun pengelolaan keuangan. Saya hanya ingin berbagi informasi mengenai urusan ‘perpaketan’, tepatnya, mengapa kita tidak diizinkan mengirimkan paket yang dibungkus dengan kertas koran.

Beberapa waktu lalu, saya mengirim paket dari Jakarta menuju Pekalongan. Saat itu, saya memilih mengirim paket melalui Pos Indonesia dengan pertimbangan tarif yang terjangkau. Plus, tidak ada urgensi waktu, dalam artian paket itu tidak ditunggu-tunggu dalam jangka waktu tertentu. Kalau sedang terburu-buru, biasanya saya memilih jasa pengiriman lain, yang bisa memastikan paket diterima dalam satu atau dua hari saja.

Paket berisi buku-buku dan beberapa lembar baju itu saya bungkus rapi di dalam kardus bekas. Saya pastikan seluruh sudut tertutup. Agar lebih rapi, saya lapisi kardus dengan kertas koran bekas, kemudian dilapis lagi dengan selotip lebar hingga seluruhnya tertutup rapat. Tujuannya agar isi di dalam paket tetap aman dan utuh walaupun nanti paket itu akan terbanting-banting selama ekspedisi.

Betapa terkejutnya saya ketika petugas di kantor pos menolak mengirimkan paket itu. Alasannya karena paket dibungkus kertas koran. Saya bertanya heran: kenapa? Alasan yang disampaikan kemudian pun terasa mengada-ada. Menurut petugas, paket tidak boleh dibungkus dengan kertas koran karena nanti petugas ekspedisi akan terdistraksi dan sibuk membaca koran pembungkus itu sehingga pekerjaannya terbengkalai. Saya paham itu hanya alasan yang dibuat sekenanya, setengah bercanda. Saya yang kesal kemudian menanyakan kembali apa alasan sebenarnya. Petugas hanya menjawab singkat “itu aturan dari perusahaan.”

Saya kemudian terpaksa melapisi paket yang sudah terbungkus rapat itu dengan selotip warna cokelat hingga seluruh permukaan tertutup meskipun tulisan dari kertas koran masih terlihat samar-samar.

Kejadian kedua dialami oleh Elga, teman saya. Sekitar satu tahun lalu, Elga mengirimkan lima paket dari Jakarta menuju Tuban. Ukuran paket-paket itu superbesar karena memuat hampir seluruh isi kamarnya di kost. Elga menggunakan kardus bekas kemasan rokok Djarum.

Saya yang sebelumnya telah berpengalaman dengan penolakan terhadap paket berbungkus kertas koran bekas (walaupun sudah tertutup rapat dengan selotip), terlebih dahulu mewanti-wantinya agar tidak mengulang hal serupa. Akhirnya Elga memilih melapisi kardus-kardusnya dengan plastik wrap. Itu lho, plastik wrap yang biasa digunakan untuk membungkus koper di bandara. Setelah rapih, paket-paket dalam kardus itu pun diangkut ke kantor pos.

Lagi-lagi, petugas di kantor pos menolak. Alasannya lebih absurd lagi: sebab di kardus itu masih terlihat ada tulisan Djarum. Ya Salam…

Kami jengkel. Aneh sekali peraturan yang berlaku di kantor pos. Selain tidak mendapatkan penjelasan yang benar-benar memuaskan, saya juga tidak mendapatkan solusi dari petugas. Saat itu, petugas hanya menyebutkan bahwa kantor pos menyediakan layanan pembungkusan ulang paket-paket. Tarifnya Rp35.000 untuk ukuran paket Elga saat itu (saya lupa berapa persisnya ukuran dimensi dan berat paket). Akan tetapi saat itu hampir tengah malam, petugas pembungkus paket hanya satu orang dan mungkin mengantuk sehingga kerjanya lama sekali. Dibutuhkan waktu hampir setengah jam hanya untuk membungkus ulang satu paket. Padahal paket Elga ada lima.

Akhirnya, kami berinisiatif membeli selotip warna cokelat di minimarket yang kebetulan masih buka. Kami juga membeli cutter. Sambil mengomel dan menggerutu, kami menutup tulisan Djarum dan perintilannya dengan selotip warna cokelat. Iya, kami hanya mentutup tulisannya saja, bukan melapisi seluruhnya. Hanya untuk menyesuaikan permintaan petugas kantor pos.

Dibutuhkan waktu tak lebih dari 15 menit untuk menyelesaikan semuanya. Tapi kami KZL. Hih!

Sejak pengalaman yang menjengkelkan itu, hingga sekarang saya selalu membungkus paket-paket dengan selotip warna cokelat, tanpa pernah tahu alasan sebenarnya. Hingga, akhirnya, dalam satu kesempatan liputan, saya bertemu dengan Direktur Utama PT Pos Indonesia, Bapak Gilarsi Wahju Setijono.

Tepatnya, minggu lalu, saya bertemu dengan Pak Gilarsi dalam acara pelepasan saham PT Pos Indonesia kepada PT Taspen yang ada di Bank Mantap. Setelah selesai wawancara, saya menyempatkan diri bertanya-separuh-curhat: Pak, kenapa sih Pos Indonesia tidak memperbolehkan saya mengirim paket yang berbungkus kertas koran walaupun sudah dibungkus sedemikian rapih dan dilapisi plastik? Saya pernah bertanya kepada petugas, tapi jawabannya ya gitu deh. Engga jelas.

Ternyata eh ternyata, Pak Gilarsi menjawab bahwa sesungguhnya kertas pembungkus bukan masalah penting selama paket dikemas rapi. Hanya saja, Pos Indonesia memang sedang dalam proses untuk melakukan standardisasi paket. Tepatnya, standardisasi dalam hal dimensi.

Alasannya, standardisasi dimensi paket akan meningkatkan efisiensi dalalam proses ekspedisi. Jika dimensi paket-paket yang dikirim sudah sesuai standar, maka proses pengangkutan akan lebih mudah karena tinggal ditumpuk-tumpuk saja. Ruang yang diperlukan pun akan lebih hemat karena seluruh paket dapat disusun dengan sempurna tanpa menyisakan ruang kosong. Bayangkan saja seperti menumpuk rantang. Jika ukuran seluruh rantang sama, maka akan jauh lebih mudah disusun, bukan?

Nah, dalam rangka menuju standardisasi itu, Pos Indonesia sudah memulainya dengan standardisasi bungkus paket. Paket yang dikirim harus benar-benar terbungkus rapih dan kuat. Jadi, persoalan warna dan jenis kertas pembungkus sesungguhnya bukanlah hal utama, karena yang penting adalah dimensi.

Kalau alasannya standardisasi dimensi, saya sangat setuju. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan kardus. Kalau memang Pos Indonesia akan menetapkan standar dimensi tertentu, pastikan ada sejumlah pilihan ukuran. Harus dipastikan pula kardus-kardus itu mudah dibeli alias tersedia di mana-mana.

Satu lagi. Menurut saya, sebaiknya Pos Indonesia fokus saja pada urusan standardisasi dimensi ukuran paket, tidak perlu mengatur pula soal warna dan jenis kertas pembungkus. Biarkan kami-kami ini berekspresi melalui kertas pembungkus paket, karena segala sesuatu yang seragam itu membosankan :p

APBN untuk Siapa?

Bagaimana Memulai Investasi?

2 thoughts on “Mengapa Tidak Boleh Kirim Paket Berbungkus Kertas Koran?

  1. ternyata seperti itu ya,
    kalau ribet, pindah saja ke tempat lain.
    Apalagi sekarang banyak perusahaan ekspedisi yang menawarkan berbagai pelayanan menarik.

    terima kasih dan salam kenal

    Reply
    1. Hai, Ina.. iya, memang agak ribet dan minim informasi sehingga membuat konsumen sebel. Pos Indonesia memang harus berbenah, terutama dalam hal pelayanan, agar tidak ditinggalkan konsumennya.

      Saya sendiri kadang masih memilih Pos untuk beberapa alasan. Tapi sering juga memilih jasa ekspedisi lain. Cari yang paling nyaman saja 😀

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *