Mendeteksi Jebakan Investasi Bodong

DSCF0406

Dari waktu ke waktu, sering sekali kita mendengar berita mengenai korban investasi bodong. Para korban tertipu, mereka kehilangan uang mulai nominal ratusan ribu hingga ratusan juta, bahkan kadang mencapai miliaran rupiah.

Modus investasi yang ditawarkan bisa bermacam-macam, dari yang paling kasar seperti ‘menggandakan’ uang, hingga ke modus yang lebih canggih seperti arisan berantai dan ‘bisnis’ dengan skema mirip multi level marketing alias MLM.

Jika kita waspada dan tidak mudah tergiur iming-iming, sebenarnya mudah saja mendeteksi investasi bodong. Prinsipnya sederhana, when it seems to be too god to be true, then IT IS too good to be true. Masak iya sih, tanpa bekerja atau melakukan apa-apa, uang kita akan berlipat ganda begitu saja.

Sayangnya, banyak dari kita menjadi kurang waspada ketika mendengar potensi keuntungan yang berlipat-lipat tanpa perlu banyak usaha. Karena sudah terlanjur mupeng, akal sehat jadi absen 😀

Saya masih ingat, sekitar satu tahun lalu, di media sosial terutama Facebook, gencar sekali promosi tawaran investasi berlabel MMM, yang diartikan dengan “Manusia Membantu Manusia”. Beberapa teman saya bahkan secara agresif mempromosikan ‘investasi’ itu melalui akun miliknya. Promosi dilakukan melalui status FB, postingan foto, dan share link blog atau website yang menunjukkan cerita ‘kesuksesan’ para pelaku MMM ini. Tak lupa, teman saya ini juga menampilkan screen capture rekening (entah rekening milik siapa) untuk membuktikan mutasi rekening berupa transfer dana dalam jumlah cukup besar.

Tak hanya menawarkan iming-iming berupa potensi keuntungan berlipat ganda dalam bentuk rekening, para aktivis MMM juga mempromosikan jualannya dengan mengutip dalil-dalil agama. Mereka menitik beratkan pada frasa ‘membantu manusia’ demi mendapatkan ganjaran yang setimpal, atau bahkan lebih besar.

Penjelasannya, setiap peserta MMM diwajibkan ‘membantu’ orang lain dengan cara mentransfer sejumlah uang ke rekening seseorang yang telah ditentukan oleh ‘sistem’. Setelah dua minggu, peserta yang telah ‘membantu mentransfer sejumlah uang’ itu akan mendapatkan imbalan berupa transferan sejumlah dana yang masuk ke rekeningnya. Saling membantu begitu.

Manusia membantu manusia. Saling membantu. Lalu di mana salahnya? Salahnya ada di sistem. Sistem MMM tidak pernah memberi penjelasan mengenai mekanisme saling transfer ini. Tidak jelas kenapa peserta harus mentransfer kepada si A, bukan si B, C, atau Z. Juga, tidak ada jaminan kalau setelah seorang peserta mentransfer sejumlah uang kepada rekening yang telah ditentukan, maka ia akan mendapatkan balasan setimpal.

Banyak analis menyimpulkan sistem yang digunakan oleh MMM adalah piramida. Dalam artian, peserta yang ikut belakangan akan diminta mentransfer uang kepada peserta yang lebih dahulu bergabung. Demikian seterusnya. Amsyong buat peserta yang mendaftar terakhir, karena tidak ada lagi orang yang akan menyetor uang kepadanya.

Saya tak paham betul jeroan MMM, dan karena itu sejak awal saya tidak tertarik bergabung. Insting saya mengatakan sistem ini too good to be true. Masak iya sih uang saya akan bertambah tanpa usaha apapun, hanya menyetor sejumlah uang kepada rekening seseorang yang bahkan saya tidak kenal orangnya.

Mengutip Warren Buffet, “never invest in a business you cannot understand”. Saya tidak paham apa yang dikerjakan oleh sistem MMM sampai bisa melipat gandakan uang dalam waktu singkat, tanpa ada bisnis yang terlihat nyata. Oleh karena itu, saya tidak bersedia menyerahkan uang saya dalam perputaran sistem MMM, meski semenarik apapun keuntungan yang ditawarkan.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah bertanya kepada Ibu Kusumaningtuti S. Soetiono, Anggota Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, mengenai strategi menghindari jebakan investasi bodong. Perempuan ayu yang akrab disapa Ibu Tituk ini menjawab singkat, “nomor satu memang kita menyarankan agar menanyakan apakah mereka berada di bawah pengawasan OJK atau otoritas yang lain. Nomor dua, yang perlu diwaspadai adalah imbal hasilnya, kalau di luar kewajaran itu langsung alert lah. Kuncinya dua itu aja.”

MMM kini sudah ambruk. Entah berapa ratus (atau ribu) orang telah menjadi korban. Jumlah korban tidak dapat dideteksi karena memang tidak ada daftar peserta, dan tidak ada pihak yang bertanggung jawab menangani para korban. Hilang begitu saja.

Bentuk-bentuk investasi bodong terus bertransformasi. Bila tidak waspada, kita bisa saja tergiur dan lantas terjebak.

Agar selamat dari jebakan investasi bodong, pastikan ingat dua hal yang dipesankan oleh Ibu Tituk tadi, yakni pertama, cek apakah pihak yang menawarkan investasi itu merupakan lembaga resmi yang terdaftar. Yang dimaksud di sini adalah terdaftar di otoritas yang valid ya, bukan oleh otoritas yang tidak sesuai dengan kapasitasnya. Ambil contoh misalnya MMM, yang disebut-sebut telah mendapatkan sertifikasi ‘halal’ dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bukan bermaksud merendahkan kapasitas ulama yang tergabung di MUI ya, tapi MUI bukan merupakan otoritas yang berhak menentukan legalitas sebuah lembaga investasi. Cukup lah MUI fokus menangani sertifikasi bahan makanan dan minuman saja.

Pesan kedua dari Ibu Tituk adalah waspadai imbal hasil alias keuntungan yang ditawarkan. Kalau terlalu tinggi, patut diwaspadai. Terlalu tinggi itu seberapa tinggi? Bandingkan saja dengan deposito, yang saat ini menawarkan imbal hasil paling tinggi 7% pertahun. Pilihan lainnya, bandingkan dengan imbal hasil reksa dana yang bisa mencapai sekitar 25% pertahun. Kalau sebuah ‘investasi’ menawarkan imbal hasil hingga 10% perbulan, alias 120% pertahun, itu perhitungannya bagaimana…. Waspada, waspada!

Investasi Reksa Dana (2): Mencicil Masa Depan Mulai Sekarang

BPJS Kesehatan Untung Rp13,4 Triliun?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *