Mempersiapkan Dana Menikah

penganten

foto diambil dari instagram @gusdibyo

Seorang teman berencana menikah akhir tahun ini. Pernikahan impiannya membutuhkan banyak biaya hingga menguras seluruh tabungan. Bahkan dia berencana mengajukan kredit tanpa agunan (KTA) untuk menutup kekurangan biaya menikah plus bulan madu.

Tak ada salahnya mempersiapkan pernikahan meriah dengan alasan “menikah kan hanya satu kali seumur hidup”. Sah-sah saja menguras seluruh tabungan dan bahkan berutang untuk membiayai pesta pernikahan impian. Seperti berbagai aspek lain dalam kehidupan, hidup adalah pilihan.

Kepada saya yang lebih duluan menikah, teman saya ini beberapa kali berkonsultasi tentang persiapan biaya pernikahan. Dia meminta saran mengenai bagaimana cara mempersiapkan dana pernikahan dalam waktu hanya beberapa bulan.

Saya bukan certified financial planner, sehingga saya tidak memiliki kompetensi untuk memberikan arahan soal pengelolaan keuangan. Saya kemudian hanya menceritakan pengalaman saya yang menikah dengan biaya kurang dari Rp50 juta, tanpa meminta kepada orangtua, tanpa berutang, dan tanpa menguras tabungan 😀

Begini ceritanya….

Saya dan suami sepakat untuk tidak merepotkan orangtua dalam acara pernikahan kami. Semua biaya harus bisa ditanggung sendiri. Kami juga tak ingin menguras seluruh tabungan karena hidup masih panjang dan kebutuhan masih akan banyak sekali hehehehe.

Kami mulai merancang anggaran sejak sekitar tiga bulan sebelum menikah. Saya mengajukan beberapa pos pembiayaan, lalu berdua kami berdiskusi tentang apa yang kurang, apa yang terlewat, dan apa yang berlebihan.

Sejak awal, kami menginginkan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri kerabat dan teman-teman dekat. Akad nikah saja cukup, tanpa pesta. Tapi seringkali pernikahan bukan hanya urusan dua orang calon pengantin, tetapi keluarga besar. Keluarga besar kami menginginkan ada resepsi, dan menjadikannya sebagai momentum untuk berkumpul bersama keluarga yang datang dari berbagai belahan Indonesia (lebay) 😀

Akhirnya kami berkompromi, baiklah, tetap ada resepsi tapi dengan syarat resepsi sederhana dan digelar di rumah saja, tak lama setelah akad nikah. Pertimbangannya, selain soal biaya, juga soal waktu. Biar semua prosesi segera selesai tanpa ribet….

Saya lupa berapa persisnya biaya pernikahan yang dibutuhkan, tetapi yang pasti tidak lebih dari Rp50 juta. Saya ingat itu karena seusai semuanya beres, saya masih menyimpan sisa uang di rekening. Alhamdulillah ya berkah 😀

Pengeluaran terbesar adalah untuk biaya katering, mencapai sekitar 40% dari total anggaran. Saya memilih penyedia jasa katering paling hits di seantero kampung. Menunya sederhana saja, yang penting cukup untuk menjamu tamu undangan yang jumlahnya terbatas.

Sisa anggaran dibagi-bagi untuk beragam kebutuhan lain seperti paket makanan untuk tentengan bapak-bapak undangan yang menghadiri akad nikah, hantaran untuk tetangga, panggung tenda resepsi, tratak dan kursi-kursi, hiburan, dan sewa bis untuk ngunduh mantu ke rumah suami saya.

Undangan saya cetak sendiri, dengan bantuan desain dari Mas Aji. Pun, saya hanya mencetak 20 lembar undangan fisik, karena teman-teman saya undang melalui WhatsApp dan email.

Biaya untuk suvenir juga bisa dihemat, karena saya hanya mencetak kartu (juga hasil desain Mas Aji) yang dikemas bersama benih sayuran.

Beruntung saya tidak mengeluarkan biaya untuk rias dan baju pengantin. Rias dikerjakan oleh sahabat saya yang tidak bersedia dibayar. Kebaya untuk akad nikah, saya memakai kebaya lama milik Ibu, sedangkan kebaya untuk resepsi dipinjam gratisan dari Mbak Indri, sahabat saya dan suami. Saya hanya membutuhkan Rp150.000 untuk roncean bunga melati dan Rp250.000 untuk hena di tangan dan kaki.

Acara di tanggal 11 Oktober 2015 itu pun Alhamdulillah lancar jaya tanpa halangan suatu apa. Saya dan suami lega karena uang kami cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan, bahkan ada kelebihan. Uang sumbangan malahan sebagian dapat ditabung, setelah sebagian lainnya disedekahkan.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana saya menyiapkan dana pernikahan?

Sebenarnya saya tidak sempat menabung secara khusus untuk dana menikah, sebab rencana pernikahan cukup mendadak. Awal Maret 2015 Mas Slam menemui saya pertama kali setelah bertahun-tahun dan langsung mengutarakan niatnya menikah. Awal April saya memintanya menemui Bapak. Pertengahan Juni, sepulang dari studi, saya gantian menemui Ibu Mas Slam. Akhir Juli lamaran. 11 Oktober kami menikah. Cepat sekali.

Saya pernah mewawancarai Prita Ghozie mengenai persiapan dana menikah. Dia bilang sebaiknya dana menikah dipersiapkan sejak minimal satu tahun sebelumnya. Lebih lama lebih baik. Sayangnya, saya tidak memiliki cukup waktu untuk menyiapkan dana secara khusus. Jadilah, saya membobol dana darurat 😀

Sejak dulu, saya selalu memiliki anggaran dana darurat yang disimpan di rekening bank. Dana darurat berfungsi sebagai safety nett jika ada kebutuhan mendadak ataupun menjaga diri agar tidak jatuh miskin ketika kehilangan pendapatan utama. Intinya untuk berjaga-jaga. Menurut financial planner, besarnya dana darurat idealnya senilai 6 kali kebutuhan pengeluaran bulanan.

Posisi saldo dana darurat saya menjelang menikah Alhamdulillah cukup banyak, terbantu oleh THR, tabungan dari sisa uang saku selama mengikuti program APJC di Melbourne selama lima minggu, dan gaji yang tetap masuk ke rekening walaupun saya cuti belajar.  Jadilah, saya patungan dengan Mas Slam yang ternyata sudah menabung cukup banyak untuk menikah walaupun saat itu belum memiliki rencana jelas ingin menikah dengan siapa hahahahaha….

Seusai pernikahan, perlahan-lahan saya mencoba mengumpulkan kembali dana darurat yang jebol, sambil terus menambah saldo rekening reksa dana dan juga menabung untuk membeli rumah.

Sejauh ini saya cukup puas dengan rencana-rencana keuangan yang sudah berjalan. Saya juga bersyukur karena biaya pernikahan hanya menjebol persediaan dana darurat, tanpa mengganggu pos-pos investasi yang lain yakni reksa dana, logam mulia, dan deposito yang tetap selamat hingga kini.

Bagi saya, pernikahan tidak perlu dirayakan dengan gegap gempita.  Cukuplah memenuhi harapan orang-orang terdekat. Persiapan untuk kehidupan selanjutnya jauh jauh jauh lebih penting. Tapi sekali lagi, hidup adalah perkara pilihan, dan siapapun boleh memilih jalan yang berbeda dengan saya.

Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan

Tips Aman Bertransaksi di ATM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *