Membangun Rumah Tanpa KPR

jendela

Bombastis ya judulnya: membangun rumah tanpa KPR. Seolah-olah di tulisan ini saya akan menjabarkan tips dan trik memiliki rumah tanpa harus meminjam uang dari bank. Judul yang lebih tepat sebenarnya adalah berusaha membangun rumah tanpa Kredit Pemilikan Rumah (KPR), namun agar lebih mudah, saya tulis saja begitu 🙂

Kami, saya dan suami, memang sedang berusaha membangun rumah tinggal tanpa mengandalkan pinjaman dari bank. Bukan karena kami supertajir sehingga bisa dengan mudah membeli rumah secara tunai. Jalan ini adalah pilihan yang kami ambil dengan sejumlah pertimbangan setelah melalui proses cukup panjang.

Sebelum menikah, kami sempat berencana memanfaatkan kredit KPR. Ketika itu, (calon) suami sudah memilih satu unit rumah yang dibangun oleh pengembang dan sudah membayar uang muka. Dia juga telah mengajukan permohonan KPR ke salah satu bank. Permohonannya ditolak, karena nilai cicilan terlampau besar jika dibandingkan dengan gaji. Standar rata-rata bank adalah nilai cicilan tidak boleh melebihi 30% dari total pendapatan.

Setelah mengobrol lebih lanjut dengan saya, yang saat itu masih berstatus sebagai calon istri, kami sepakat untuk mencoba mengajukan kembali permohonan KPR kepada bank dengan melampirkan slip gaji saya sebagai tambahan. Kami yakin pengajuan kredit itu akan diterima karena menggunakan dua slip gaji sehingga cukup memadai.

Guna memperlancar segala urusan pengajuan kredit itu lah, begitu resmi menikah, kami bergerak cepat mengurus administrasi Kartu Keluarga (KK) agar kami tercatat secara resmi sebagai suami-istri. KK diperlukan sebagai lampiran pengajuan kredit yang menggunakan dua slip gaji/bukti pendapatan suami-istri.

Sayang seribu sayang, ternyata rencana itu gagal total. Pengembang yang kami pilih mangkir menyelesaikan kewajibannya. Bahkan, tanpa pemberitahuan, pihak pengembang juga sudah melego unit rumah yang kami pilih kepada bank. Soal ini tidak akan saya bahas lebih lanjut. In short, kami memutuskan move-on.

Untuk menghibur diri, kami kemudian berandai-andai tentang rumah impian kami nanti. Bayangan yang muncul bukan lagi rumah minimalis di kompleks perumahan yang dibangun oleh pengembang, tetapi justru rumah kayu sederhana yang berada di tengah kebun.  Boleh saja kan berandai-andai, toh gratis 😀

Sambil menabung sedikit demi sedikit, saya memulai ‘belanja informasi’ di beberapa bank tentang kemungkinan mengambil fasilitas Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk membeli tanah dan membangun rumah. Tapi ternyata tidak mudah. Bahkan bank yang menerima payroll saya hanya berani menawarkan maksimal Rp100 juta. Jelas tidak cukup uang segitu untuk membeli tanah dan membangun rumah.

Selain itu, saya juga berpikir tentang bunga dan beban cicilan. Saat itu bank menawarkan pinjaman Rp100 juta dengan tenor pinjaman 5 tahun. Bunga pinjaman 9,75% pertahun. Itu berarti saya harus mencicil sekitar Rp2,5 juta perbulan selama 5 tahun. Itu hanya untuk utang senilai Rp100 juta yang mungkin cuma cukup untuk membeli tanah. Lalu biaya bangun rumah (apalagi mengisi rumah) melu sopo….

Pertimbangan soal beban cicilan juga menghantui kami—saya terutama—jika kami memutuskan untuk kembali mengajukan KPR. Dengan harga properti saat ini, yang kenaikannya meroket cepat sekali, rasa-rasanya tenor pinjaman yang masuk akal adalah minimal 10 tahun. Artinya, kami akan terus menerus dibebani cicilan rumah selama 10 atau bahkan 15 tahun. Membayangkannya saja saya sulit.

Bukan apa-apa, saya memang tipe orang yang tidak tahan berutang. Sejak kecil, saya terbiasa menabung untuk membeli sesuatu yang saya inginkan. Jika belum mampu membeli, itu berarti saya perlu menabung lebih lama lagi. Kebiasaan itu terbawa hingga dewasa.

Ketika pada satu waktu ‘berkesempatan’ berutang, pun pada akhirnya saya buru-buru melunasinya karena merasa tidak nyaman. Saat itu akhir 2014, Blackberry saya rusak. Kebetulan, seorang teman menawarkan promo pembelian ponsel  pintar low-end dengan sistem cicilan selama 10 bulan tanpa bunga. Nilai cicilannya pun rendah, Rp175.000 perbulan. Enteng sekali, hampir tidak terasa. Akan tetapi, entah kenapa, tetap saja saya merasa ada beban. Pada bulan ketiga, seluruh sisa cicilan saya lunasi 😀

Berkaca pada pengalaman itu, saya jadi ragu apakah akan ‘kuat’ menanggung beban cicilan KPR selama belasan tahun. Apalagi cicilan KPR akan jauuuhhhhh lebih tinggi daripada cicilan ponsel. Ketika merasa tidak nyaman dengan beban cicilan ponsel, syukur Alhamdulillah saya masih punya rejeki cukup untuk melunasi sisa cicilannya sekaligus. Jika merasa tidak nyaman dengan beban cicilan rumah, sepertinya saya tidak akan punya keleluasaan semacam itu. Beban cicilan rumah, kan, ratusan juta. Huehueheu…

Setelah mempertimbangkan beberapa hal itu, saya dan suami kemudian sepakat untuk membangun rumah tanpa memanfaatkan jasa bank melalui KPR. Bismillah saja, kami percaya semua orang punya jalan rejekinya sendiri-sendiri.

Demi mewujudkan rumah impian, kami harus lebih cermat lagi mengatur keuangan.  Anggaran bulanan dibuat lebih fokus ke tujuan utama saat ini yakni rumah. Anggaran untuk pensiun dan asuransi tentu saja tetap kami pertahankan karena itu sangat amat penting. Di sisi lain, pos anggaran lain yang masih bisa ‘dinego’, seperti anggaran hiburan dan jalan-jalan, mau tak mau, harus sedikit dikurangi. Demi!

Perjalanan membangun rumah impian kami dimulai dengan mencari lahan yang cocok. Kami memilih lahan di daerah perdesaan agar cocok dengan konsep rumah kampung yang kami impikan. Memilih lahan di kampung juga lebih masuk akal dengan anggaran kami yang terbatas. Mungkin memang sudah rejeki kami, ketika pada pertengahan 2016 lalu akhirnya dipertemukan dengan sepetak lahan di Kampung Sentosa. Harga lahan seluas 164 meter persegi itu pun kebetulan sesuai dengan anggaran yang telah kami siapkan.

kampung sentosa

Ketika lahan sudah terbeli, langkah selanjutnya adalah mencicil membeli batu pondasi, batu bata, semen, pasir, kayu, genteng, tegel, pintu, jendela, dan lain sebagainya. Karena lahan kami tidak berada di kawasan perumahan, melainkan benar-benar di tengah kebun, maka kebutuhan terhadap air, jaringan listrik, dan sanitasi, juga harus kami urus sendiri. Ini tentu membutuhkan dana tidak sedikit. Perjalanan masih sangat panjang.

Perlahan, satu demi satu, kami telah mulai mengumpulkan apapun yang bisa dibeli dan terjangkau oleh isi dompet. Kami membeli pintu, jendela, dan tegel-tegel bekas rumah-rumah lawas yang masih sangat apik.  Seperti menyusun puzzle, kami mengumpulkan yang terserak untuk disusun menjadi bentuk yang utuh.

Sebab rumah adalah tempat sejarah sebuah keluarga bermula. Dan kami telah memulai langkah untuk menyusun puzzle sejarah kehidupan kami.

Bagaimana Memulai Investasi?

Bagaimana Memulai Investasi (2): Memilih Instrumen yang Cocok

2 thoughts on “Membangun Rumah Tanpa KPR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *