Proses membongkar rumah limasan di Wonogiri.

Hampir satu tahun berlalu sejak saya menuliskan cerita awal mengenai rencana membangun rumah tanpa KPR. Kini, di akhir tahun, rumah impian saya sudah hampir terwujud. Jika tak ada halangan, kemungkinan besar rumah itu sudah bisa dihuni pada Februari 2018.

Setelah membeli sepetak lahan di Kampung Sentoso pada Agustus 2016, uang tabungan saya dan suami habis bis bis… Heuheuheu.. Untuk menyiapkan biaya pembangunan rumah, kami memutuskan mulai menabung dari nol lagi.

Sebagaimana saya ceritakan di postingan terdahulu, saya memang cenderung menghindari utang karena merasa tidak nyaman dari sisi ketentraman pikiran alias peace of mind. Ketika belum memiliki cukup uang untuk membeli sesuatu, saya memilih menabung sedikit demi sedikit sampai terkumpul dana yang dibutuhkan.

Saya dan suami memperkirakan kebutuhan anggaran untuk membangun rumah akan berkisar Rp100 juta, di luar material utama yakni rumah limasan bekas alias bongkaran rumah limasan.

Setelah urusan tanah beres, berikut sertifikat hak milik dan balik nama, kami mulai mencicil membeli barang-barang kecil dan murah sambil terus menabung dan mencari bongkaran rumah limasan.

Situs jual beli barang bekas OLX mempertemukan kami dengan penjual bongkaran rumah limasan di Wonogiri, Jawa Tengah. Setelah mempertimbangkan sejumlah hal, kami memutuskan membeli rumah tua yang berlokasi tak jauh dari Waduk Gajah Mungkur itu. Pada 19 Februari 2017, rumah limasan berbahan kayu jati berusia lebih dari 90 tahun tersebut sudah dibongkar dan mendarat di Semarang.

Menyusul satu bulan berikutnya, tepatnya 16 Maret 2017, kami membeli satu lagi rumah limasan dari Kulonprogo, Yogyakarta, untuk melengkapi kebutuhan kayu. Rencana awalnya, rumah kami akan terdiri atas dua bangunan utama yang menyatu. Rumah bagian depan menggunakan kayu jati rumah Wonogiri, sedangkan rumah bagian belakang akan dibangun menggunakan kayu nangka rumah Kulonprogo.

Gebyok dari bongkaran rumah limasan Kulonprogo mendarat di Semarang.

Setelah membeli dua rumah limasan itu, kami pun ‘puasa’ lagi hehehe… Menabung lagi pelan-pelan sambil memangkas sejumlah anggaran pengeluaran.

Di tengah kondisi anggaran yang serbaketat, kami masih berupaya menyelipkan agenda liburan biar tidak stres. Agar tetap hemat, kami memutuskan berlibur di Purwokerto, yang relatif terjangkau karena biaya transportasi dan akomodasi bisa ditekan. Padahal sejak dulu pengin banget liburan ke Banda Neira, tapi sementara ditunda dulu deh heuheu…

Ketika di Purwokerto itulah, saya menyempatkan bertemu dengan sahabat lama semasa kuliah: Mbak Rosyidah. Kepada Mbak Rose, saya bercerita—semi curhat—tentang kegalauan terhadap rencana membangun rumah.

Saya galau karena material kayu bongkaran rumah limasan itu tidak boleh dibiarkan terlalu lama disimpan karena akan mengundang rayap. Agar awet, kayu-kayu itu harus segera diolah dan didirikan sebagai rumah, lengkap dengan pondasi. Masalahnya, biaya pembangunan rumah terasa besar sekali. Rp100 juta, menurut hitungan kasar. Uangnya dari manaaa… 🙂

Mbak Rose lalu mencoba menenangkan hati saya. Dia meyakinkan bahwa ‘selalu ada jalan’. Dia kemudian bercerita bahwa ketika sedang membangun rumahnya di Purwokerto, modalnya hanya nekat dan berani berhemat. Anggaran rumah tangga diatur sedemikian rupa agar cukup dibagi untuk membeli material dan membayar tukang bangunan.

“Aku yang guru swasta dengan dua orang anak saja bisa. Kamu juga pasti bisa, mumpung belum ada tanggungan,” kata Mbak Rose.

Berbekal keyakinan dan doa, ditambah kekhawatiran terhadap serangan rayap yang semakin mengancam kesehatan kayu-kayu, akhirnya saya dan suami nekat memberanikan diri untuk memulai pembangunan rumah dengan modal seadanya. Dimulai dengan mencicil material.

Mei 2017, menjelang puasa, kami berburu batu-bata dan terakota ke Mayong, Jepara. Dua bulan setelahnya, kami terus mencari informasi mengenai material bangunan paling hemat, sambil menebalkan niat dan mengisi pundi-pundi tabungan.

14 Agustus 2017, prosesi pembangunan rumah dimulai dengan “bedah bumi”, dilanjutkan dengan pembangunan pondasi.

Kini, empat bulan berlalu sejak Pak Dul, Pak Murnowo, Pak Kaemi, Pak Narijo, membabat ilalang dan membersihkan lahan kami untuk memulai pondasi. Konstruksi rumah sudah 90% selesai.

Lalu, berapa sesungguhnya biaya yang dibutuhkan untuk membangun rumah tanpa KPR? Merujuk pada pengalaman saya, Rp100 juta tidak cukup hehehehe…

Bagaimana perincian biaya pembangunan rumah dan pengaturan anggaran agar saya bisa mengumpulkan uang Rp100 juta dalam waktu kurang dari satu tahun? Saya ceritakan dalam postingan selanjutnya ya.

Menjelajah Pasar Sayur dan Buah di Bandungan

Mengenal Pahlawan di Uang Rupiah Emisi 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *