Memarkir Dana di Deposito

Dulu, saya berpikir deposito adalah tempat menyimpan uang khusus bagi orang-orang kaya dan superkaya. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, juga tidak benar-benar tepat. Faktanya, deposito bisa digunakan oleh siapa saja, tidak perlu kaya-kaya amat.

Setiap bank pasti memiliki produk deposito. Prinsip dasarnya kurang lebih sama, yakni, nasabah menyimpan dana dalam jumlah tertentu dalam jangka waktu tertentu. Berbeda dengan dana tabungan yang dapat diambil kapan saja, dana deposito dikunci selama masa yang ditentukan.

Umumnya, masa jatuh tempo deposito adalah 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Ambil contoh misalnya saya menyimpan dana dalam produk deposito 3 bulan, artinya saya hanya dapat mengambil uang itu ketika masa jatuh tempo deposito yakni 3 bulan setelah pembukaan rekening.

Menyimpan dana dalam bentuk deposito lebih menguntungkan dibandingkan dengan menyimpan uang dalam bentuk tabungan biasa. Alasannya?

Pertama, dana deposito dapat lebih terjaga karena tidak dapat diambil sewaktu-waktu. Beberapa bank bahkan menerapkan denda atau penalti jika nasabah mencairkan deposito sebelum tanggal jatuh tempo. Bandingkan dengan tabungan, yang rentan jebol jika kita tidak disiplin mengontrol kartu ATM :p

Keuntungan kedua, bunga deposito jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bunga tabungan. Rata-rata bank memberikan bunga tabungan sekitar 2% pertahun. Jika saldo tabungan tak seberapa banyak, bunga biasanya akan tergerus oleh biaya administrasi bulanan bank yang berkisar antara Rp10.000-Rp13.500 perbulan.

Bunga deposito relatif lebih tinggi, saat ini berada pada kisaran 5,5%-6,75% pertahun untuk dana deposito ‘biasa’. Bunga deposito yang lebih besar ditawarkan bagi nasabah yang bersedia menyimpan dana senilai miliaran rupiah. Tawar menawar bunga deposito bisa dilakukan bila nilai deposito besar. Beberapa bankir mengaku pernah memberikan bunga deposito hingga 10% pertahun bahkan lebih, demi mendapatkan kepercayaan nasabah ‘kakap’.

Dari kedua poin di atas, jelas bahwa deposito lebih menguntungkan dibandingkan dengan tabungan. Tapi bukan berarti semua uang simpanan kita harus dialihkan ke deposito lho ya. Fungsi kedua produk jasa keuangan itu berbeda: deposito untuk simpanan, sedangkan tabungan untuk membantu transaksi sehari-hari dan berjaga-jaga bila ada keperluan mendadak.

Minggu lalu, saya memutuskan kembali membuka rekening deposito. Saya memilih deposito berjangka waktu 3 bulan, dengan bunga 6% pertahun dipotong pajak 20% untuk setiap rupiah bunga yang saya peroleh.

Kenapa deposito, dan kenapa 3 bulan, padahal bunga deposito untuk jangka waktu 12 bulan lebih tinggi dari 6%?

Saya membuka deposito untuk memarkir uang yang sudah terkumpul namun belum akan digunakan dalam waktu dekat. Daripada nganggur di tabungan, lebih baik uang itu saya parkir sementara di deposito, yang memberikan bunga simpanan lebih tinggi.

Jangka waktu 3 bulan saya pilih untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba uang itu harus digunakan. Jangka waktu 6 bulan atau 12 bulan rasanya terlalu panjang. Toh, saya pilih deposito 3 bulan dengan sistem automatic rollover alias otomatis diperpanjang tiga bulan lagi jika pada saat jatuh tempo deposito itu belum dicairkan.

Berapa bunga yang akan saya dapat? Menurut perhitungan mbak customer service, deposito saya akan memberikan imbal hasil sekitar Rp100.000 perbulan, yang akan langsung diakumulasikan ke dalam dana deposito itu. Jadi saya terima beres saja.

Tahun lalu, saya juga membuka rekening deposito di bank lain. Jangka waktu 3 bulan, dan baru saya cairkan pada bulan ke-9. Waktu itu bunga yang ditawarkan lebih tinggi, 7,5% pertahun. Selama 9 bulan dana disimpan di deposito, ada tambahan bunga Rp1,2 juta. Lumayan buat nambah uang jajan 😀

Pada tahun ini, rata-rata bunga deposito yang ditawarkan oleh bank cenderung lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Dilihat secara industri, tren bunga deposito memang menurun sejak awal 2015, seiring dengan mulai melonggarnya likuiditas perbankan. Artinya, dana masyarakat tersedia cukup banyak. Di sisi lain, penyaluran kredit bank tidak tumbuh terlalu tinggi. Dampaknya, bank tidak lagi ‘berebut’ dana masyarakat dan tak lagi menawarkan iming-iming secara berlebihan. Bunga deposito pun turun.

Biarpun tren bunga deposito menurun, sekali lagi, deposito masih lebih menguntungkan dibandingkan tabungan. Jadi, jika memang ada dana terkumpul dan menganggur di tabungan, ada baiknya segera diparkir di deposito.

Caranya mudah kok. Cukup bawa buku tabungan, kartu debet, dan tanda pengenal (KTP/SIM), lalu serahkan kepada customer service di bank yang akan dengan senang hati membantu. Selamat mencoba…..

Mengelola Keuangan Tak Semudah Teori! (tapi bisa dilakukan)

Investasi Reksa Dana: Pengalaman Pertama

One thought on “Memarkir Dana di Deposito

  1. Pingback: Mengenal Reksadana (2) | farodila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *