Kuparkir Motor dengan Bismillah

karisma

“Kuparkir motor dengan bismillah” adalah ungkapan yang digunakan teman saya Nurulia Juwita untuk menggambarkan kepasrahannya ketika terpaksa memarkir motor di tempat parkir liar. Hanya kepasrahan yang membuat hati tenang ketika meninggalkan motor terparkir tanpa dikunci ganda, tanpa ada karcis parkir dan asuransi. Haha..

Bertahun kemudian, ungkapan itu ternyata menginspirasi saya untuk membeli sepeda motor bekas. Motor bekas, bagi saya, memberikan rasa tenteram karena harganya yang tak terlampau mahal. Jadi saya merasa lebih tenang ketika meninggalkannya di tempat parkir pinggir jalan.

Januari 2013, setelah tiga bulan bekerja sebagai reporter, saya memutuskan membeli sepeda motor. Saya tak bisa lagi mengandalkan transportasi umum untuk menjangkau tempat-tempat liputan yang bisa berganti hingga dua kali, bahkan terkadang tiga kali, dalam sehari. Pernah saya terlambat tiba di tempat liputan karena angkot yang saya naiki ngetem lama sekali. Ojek bukan pilihan karena tarifnya mahal, ditambah lagi saya tak pandai menawar. Ketika itu belum ada Gojek, Grabbike dan Uber yang memberikan tarif sesuai jarak tempuh.

Saya membeli Honda Karisma bekas senilai Rp5 juta. Kondisinya masih cukup bagus. Pemilik sebelumnya telah memodifikasinya sehingga bodi motor sedikit lebih pendek, jadi pas dengan postur tubuh saya yang kecil. Pas buat saya artinya kaki bisa menapak sempurna ke tanah dalam kondisi sepeda motor berhenti. Ini penting buat keamanan dan kenyamanan berkendara.

Ketika itu, banyak teman yang mempertanyakan keputusan saya membeli sepeda motor bekas. Menurut mereka, akan lebih hemat jika saya membeli sepeda motor baru dengan cara mencicil. Dengan uang muka Rp1 juta, bahkan kurang, saya bisa membawa pulang sepeda motor baru, dengan cicilan hanya Rp800.000-Rp900.000 perbulan yang akan selesai dalam jangka waktu sekitar 2 tahun. Besaran uang muka dan cicilan bisa disesuaikan dengan jangka waktu pinjaman. Semakin lama jangka waktu, semakin kecil pula nilai cicilan. Ada banyak perusahaan multifinance yang menawarkan program cicilan.

Saya memilih membeli sepeda motor bekas secara tunai dibandingkan sepeda motor baru dengan cara mencicil bukan karena alasan ideologis nan syari seperti ‘menghindari riba’. Bukan pula karena saya antikapitalis yang menolak berutang di multifinance atau bank karena ‘menghindari rente’. Pilihan saya terhadap sepeda motor bekas lebih karena faktor ketentraman dan kenyamanan hati.

Memiliki sepeda motor bekas, saya tak khawatir memarkirnya di area parkir liar. Di Jakarta, umumnya juru parkir melarang pemarkir mengunci ganda kendaraannya. Alasannya supaya kendaraan lebih mudah digeser-geser untuk ditata. Di area parkir seperti ini, motor juga rentan lecet karena tersenggol kendaraan lain. Nah, karena sepeda motor saya sudah tua dan banyak bocel di sana-sini, rasanya legowo saja kalau ditambahin lecet-lecet lagi. Toh sudah biasa.

Karena sepeda motor saya jelek, saya juga merasa lebih aman dari risiko pencurian. Jika disandingkan dengan banyak sepeda motor lain di area parkir, rasa-rasanya maling tidak akan melirik Karisma saya karena banyak yang lebih bagus. Itu sih hanya asumsi saya saja heuheuheu…

Kenapa saya tak memilih memarkir sepeda motor di tempat parkir resmi? Hm, di Jakarta, tak mudah menemukan area parkir sepeda motor resmi di gedung perkantoran, hotel, atau mall. Kalaupun ada tempatnya sangat terbatas, mahal, dan seringkali sudah penuh oleh para pelanggan yang memiliki kartu keanggotaan. Saya yang datang hanya sekali-kali untuk memenuhi undangan liputan jadi tak kebagian tempat. Parkir liar jadi pilihan ketika tak ada parkir resmi.

Dari segi harga, menurut beberapa teman, harga Karisma saya terlalu tinggi. Seorang teman, Elga, membeli sepeda motor Revo bekas hanya seharga Rp4 juta. Maftuh membeli Supra bekas Rp3 juta. Entahlah, saya sendiri tak ingin terlalu ambil pusing dengan harganya, karena dulu saat disodorkan Karisma biru itu, saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Yang terpenting barang itu bisa awet dan tidak butuh banyak biaya perawatan.

Membeli sepeda motor secara tunai juga mengamankan cashflow bulanan, karena saya tidak terbebani oleh pengeluaran tambahan berupa cicilan jika membeli sepeda motor baru secara kredit. Walaupun cicilannya tidak terlampau besar, ‘hanya’ Rp800.000-Rp900.000-an perbulan, tapi lumayan juga jika ditotal selama dua tahun. Anggaran cicilan sebesar itu bisa saya manfaatkan untuk keperluan lain seperti belanja baju, sepatu, make-up, untuk berlibur, atau bahkan ditabung.

Tak ada salahnya membeli sepeda motor dengan sistem kredit, asalkan mampu menyelesaikan seluruh pembayaran cicilan sampai selesai dan paham benar segala konsekwensinya. Buat saya, pilihan untuk membeli sepeda motor bekas adalah yang paling cocok.

Setelah 3,5 tahun, Karisma bekas saya masih sangat-sangat bisa diandalkan. Asalkan diganti oli dan diservis rutin, sepeda motor tua itu tak banyak bertingkah.

Menyisihkan Anggaran untuk Kosmetik

Perkenalkan, Sukuk Tabungan ST 001 Tahun 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *