Ketika Kinerja Reksa Dana Tidak Sesuai Rencana

paribas

Saya memutuskan sementara berhenti menambah investasi di salah satu dari tiga rekening reksa dana yang saya miliki. Alasannya, kinerja reksadana ini tidak sesuai dengan harapan.

Saya membeli produk reksadana BNP Paribas Infrastruktur Plus pada Mei 2014. Ketika itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) berada pada kisaran 4.900-5.000 an. Optimisme sangat tinggi menjelang Pemilihan Presiden 2014. Sentimen positif mendongkrak indeks. IHSG berpotensi terus menguat.

Di tengah segala euforia itu, saya memutuskan membuka satu lagi rekening reksa dana. Selain memang sentimen sedang bagus, suasana positif, kondisi keuangan saya saat itu juga memungkinkan untuk menambah pundi-pundi investasi. Pas kebetulan ada dana menganggur.

Setelah mempertimbangkan rencana penggunaan dana investasi dari anggaran ini, saya memutuskan membeli produk reksa dana saham. Profil risiko saya cukup agresif, dan ini untuk kebutuhan jangka panjang. Cocok sudah. Hal selanjutnya adalah menentukan jenis produknya, reksa dana saham yang mana?

Ketika itu, saya meyakini Jokowi akan memenangkan Pilpres. Mengikuti program-program yang ditawarkan Jokowi selama masa kampanye, saya tahu kalau calon presiden yang satu ini akan sangat memprioritaskan proyek-proyek infrastruktur. Kesimpulan saya, saham-saham sektor infrastruktur akan menguntungkan karena produksi naik untuk memenuhi kebutuhan. Hukum demand and supply. Ketika permintaan tinggi, secara otomatis produksi juga akan tinggi. Dampaknya, kinerja perusahaan yang bergerak di sektor ini juga akan baik.

Atas dasar pertimbangan itu, saya memilih produk reksa dana yang fokus pada saham infrastruktur. Mempertimbangkan rekam jejak BNP Paribas, saya pun mantap memilih produk BNP Paribas Infrastruktur Plus. Saya kemudian menyetor saldo awal senilai Rp5 juta, dan langsung mendaftar autodebet senilai Rp500.000 perbulan selama satu tahun.

Di luar prediksi, ternyata IHSG anjlok pada akhir 2014, bahkan berlanjut hingga sepanjang 2015. Investasi saya ikut ambrol dong. Heuheuheuheu…. Nilai investasi saya di rekening reksa dana yang satu itu  pernah turun hingga hampir 20%. Dari saldo awal Rp5 juta, dalam waktu beberapa bulan anjlok menjadi Rp4 jutaan saja 😀

Panik? Engga, tuh. Tidak terlalu. Saya tidak terserang panic attack karena saya sangat yakin IHSG akan kembali naik, setidaknya sampai ke level sebelum turun. Dalam artian, nilai investasi saya pasti kembali—entah kapan….

Lagipula, kalau saya panik, lalu memutuskan untuk menarik dana investasi yang sudah terlanjur turun, maka saya justru merugi. Kerugian yang tadinya hanya di atas kertas, jadi akan benar-benar terealisasi. Saya tidak ingin begitu.

Pada saat itu, saya memutuskan tetap tenang dan tetap melanjutkan autodebet. Walaupun pasar modal sedang goyah, saya tetap menambah nilai investasi secara rutin setiap bulan.

Awal 2016 dimulai dengan tren IHSG yang masih memerah. Tapi optimisme perlahan mulai mekar kembali. Ada tanda-tanda pembaikan, tak terkecuali di sektor infrastruktur. Saham infrastruktur perlahan-lahan membaik.

Saya tidak salah memilih produk reksa dana yang fokus pada saham-saham infrastruktur, karena memang itu salah satu sektor unggulan pemerintah yang akan digenjot habis-habisan dalam lima tahun masa pemerintahan Jokowi. Sektor ini pasti menguntungkan. Saya hanya salah perhitungan, karena ternyata dampak dari kebijakan pemerintah tidak langsung terasa. Butuh waktu. Tidak bisa buru-buru, ibarat hari ini pemerintah bilang “bangun jembatan, bangun jalan tol, bangun bendungan”, lalu bulan depan tiba-tiba perusahaan semen, besi, dan baja langsung ujug-ujug membukukan kenaikan keuntungan. Semua butuh proses.

Itulah sebabnya, setelah didera krisis global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang menyebabkan turunnya permintaan, dan otomatis berarti turunnya keuntungan, tahun ini kinerja perusahaan di sektor infrastruktur mulai menunjukkan pembaikan. Order mulai berdatangan. Sentimen membaik. Dampaknya, nilai sahamnya pun naik. Reksa dana pilihan saya pun membaik deh.

Merujuk pada data Phillip Securities, sepanjang 1 Januari 2016 hingga hari ini 19 Oktober 2016 alias year to date, kinerja produk reksadana BNP Paribas Infrastruktur Plus naik 16,78%. Tapi, karena saya mulai berinvestasi pas harga sedang tinggi, dan sempat mengalami jatuh hingga hampir 20%, kenaikan nilai investasi saya masih tipis, hanya 2,48%.

Tapi tak apa, karena itu berarti nilai investasi saya sudah kembali, dan naik walau sedikit!

Dalam satu kesempatan, saya berbincang sambil makan siang dengan salah seorang analis dari Daewoo Securities, mengenai prospek saham-saham sektor infrastruktur. Dia, seperti juga saya, meyakini saham-saham infrastruktur akan sangat bagus sampai beberapa tahun mendatang. Dengan demikian, prospek produk reksa dana yang fokus di infrastruktur juga akan sama baiknya.

Dengan segala optimisme ini, kenapa saya memutuskan berhenti? Hehe…

Tidak benar-benar berhenti, sesungguhnya. Nilai investasi saya masih tetap, tidak saya ambil sama sekali. Saya hanya berhenti menambahkan dana lagi ke rekening reksa dana itu.

Penyebabnya, bulan-bulan ini sedang ada cukup banyak kebutuhan, sehingga saya perlu memangkas beberapa pos anggaran. Salah satu pos yang masih bisa dipotong adalah investasi. Ini pilihan sulit, tapi tidak bisa dihindari. Jadi ya sudah, tidak apa. Dan, dari tiga rekening investasi yang saya miliki, produk ini kinerjanya paling rendah, jadi dia duluan yang kena pemangkasan anggaran. Persaingannya sudah seperti persaingan survival of the fittest di teori evolusi ya.

Jadi begitu ceritanya. Sudah, gitu aja 😀

Mengelola Cashflow Bulanan

Berpetualang di Baturraden

4 thoughts on “Ketika Kinerja Reksa Dana Tidak Sesuai Rencana

  1. Mba dilla,

    Saya bru belajar invest reksadana melalui MI. Kebetulan bru skrng tertarik sma produk bnp paribas infrastuktur. Dan ada yg mau saya tanyakan. Ada contact person / via email mba dilla.

    Terima kasih 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *