Hidup Lebih Praktis dengan Transaksi Nontunai

uang-elektronik

uang elektronik

Hingga September 2016, total jumlah uang kartal alias uang tunai yang beredar di Indonesia adalah senilai Rp563 triliun. Uang tunai itu terdiri atas berbagai pecahan, mulai dari uang logam hingga uang kertas pecahan Rp100.000-an, dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.*

Pengelolaan uang dengan nilai sedemikian besar, dalam wilayah yang sedemikian luas, tentu membutuhkan energi yang sangat besar. Biaya yang dibutuhkan pun pasti tak sedikit. Bank Indonesia (BI), selaku institusi yang bertanggung jawab dalam sistem pembayaran, harus memastikan seluruh rakyat Indonesia, di belahan wilayah manapun, dapat bertransaksi menggunakan mata uang rupiah.

Biaya pengelolaan uang tunai tidak hanya ditanggung oleh Bank Indonesia, tetapi juga oleh siapapun yang sehari-hari bertransaksi menggunakan uang tunai. Termasuk kita. Biaya pengelolaan uang tunai yang ditanggung oleh BI di antaranya adalah biaya cetak uang baru, pemusnahan uang rusak, biaya distribusi uang, biaya pengamanan, dan biaya logistik lainnya. Bagi bank dan institusi keuangan, biaya terbesar untuk mengelola uang tunai antara lain adalah biaya logistik dari bank ke ATM dan sebaliknya. Bagi pelaku usaha ataupun pedagang berskala besar, biaya pengelolaan uang tunai di antaranya meliputi biaya setor tunai dan tarik tunai, juga biaya penukaran uang kecil untuk transaksi harian.

Adapun, bagi kita masyarakat biasa, biaya pengelolaan uang tunai juga tidak bisa dianggap remeh. Bayangkan saja, jika saja setiap transaksi dilakukan hanya menggunakan uang tunai, berapa banyak biaya dan usaha yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap transaksi mulai dari beli makan minum, kebutuhan sehari-hari dan bayar ongkos transportasi, hingga ke transaksi yang lebih besar seperti membeli rumah dan kendaraan, biaya pendidikan, dll dst. Sungguh tidak efisien.

Nah, sejak 2014 lalu, BI gencar mengkampanyekan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) alias Smart Money Wave. Tujuannya adalah agar semakin banyak orang memanfaatkan fasilitas transaksi nontunai dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak orang bertransaksi tanpa melibatkan uang tunai, maka akan tercipta efisiensi yang menyebabkan penghematan besar-besaran.

Bertransaksi tanpa uang tunai sejatinya bukan barang baru. Sebagian besar masyarakat tentu sudah sangat akrab dengan beberapa bentuk transaksi nontunai seperti transfer uang dan aneka jenis pembayaran. Transfer uang dan aneka pembayaran seperti listrik, telpon, angsuran, dan lainnya, tak lagi melibatkan uang tunai karena bisa dilakukan melalui transaksi di bank, mesin ATM, internet banking atau SMS-banking. Bertransaksi menjadi lebih cepat, mudah, murah, dan tentunya aman.

BI, sebagai regulator dalam sistem pembayaran, terus berupaya meningkatkan keamanan dan kenyamanan transaksi nontunai. Misalnya, sekarang transfer dana menjadi jauh lebih cepat dengan sistem Real Time Gross Settlement (RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) yang baru.

Setelah masyarakat cukup akrab dengan transfer uang dan pembayaran, perkembangan transaksi nontunai sekarang sudah masuk ke era yang lebih canggih lagi: uang elektronik.

brizzi

uang elektronik berbentuk gelang

Uang elektronik kini telah tersedia dalam berbagai macam bentuk. Ada 21 institusi, baik berupa bank maupun nonbank, yang sudah mendapatkan izin dari BI untuk mengeluarkan produk uang elektronik. Banyaknya penerbit uang elektronik membuat kita, masyarakat, bebas memilih dari beragam produk yang ditawarkan.

Uang elektronik sangat cocok digunakan untuk bertransaksi sehari-hari, terutama dalam nominal kecil atau sedang. Misalnya, untuk membeli tiket kendaraan umum. Di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta, uang elektronik dapat digunakan untuk membayar biaya transportasi di sejumlah moda transportasi yang saling terintegrasi. Juga untuk membayar tarif jalan tol.

Uang elektronik juga nyaman digunakan untuk bertransaksi di jaringan toko ritel modern yang mudah dijumpai di sekitar kita, selama mereka memiliki mesin EDC. Kelebihannya, proses transaksi menjadi lebih cepat karena kasir tak perlu repot menyiapkan uang kembalian. Konsumen pun tak perlu lagi menerima uang kembalian berupa permen, karena transaksi menggunakan uang elektronik dapat dilakukan persis sesuai nilai belanja, bahkan hingga ke nominal terkecil sekalipun.

Semakin lama, jaringan toko dan mitra yang bekerja sama dengan para penerbit uang elektronik pun semakin luas, sehingga kita punya lebih banyak lagi pilihan. Uang elektronik dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Seiring dengan semakin berkembangnya produk uang elektronik, perlu diperhatikan bahwa kewaspadaan tetap menjadi hal utama. BI memang telah mendesain sistem seaman mungkin, namun kita sebagai konsumen harus tetap berhati-hati menjaga uang kita sendiri. Perlakukan uang elektronik seperti kita menjaga uang tunai. Sebab kalau hilang ya hilang. Saya pernah 😀

Begini ceritanya. Waktu itu saya baru saja mengisi ulang (top-up) uang elektronik di mesin ATM senilai Rp100.000, lalu ingin membeli minuman dingin di vending machine. Kebetulan, saat itu vending machine eror. Saya sibuk mengutak-atik tombol, lalu bertanya kepada satpam untuk memastikan mesin memang eror. Kemudian saya lupa mengambil kembali uang elektronik yang tertinggal di mesin otomatis itu. Hilang sudah uang elektronik yang baru saya isi ulang.

Tantangan lainnya adalah belum semua merchant yang bekerja sama dengan penerbit uang elektronik benar-benar bisa diandalkan. Kalaupun alat sudah tersedia, belum tentu paramuniaga yang bertugas bisa mengoperasikannya. Pernah saya sengaja berkeliling ke beberapa toko ritel modern di sekitar tempat tinggal saya, tidak satu pun pegawainya bisa mengoperasikan mesin EDC untuk membayar menggunakan uang elektronik. Ini berarti pengembangan sumber daya manusia juga perlu mendapatkan perhatian khusus guna mendukung gerakan nontunai agar bisa berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan.

Perjalanan menuju era nontunai memang masih panjang. Masih sangat panjang. Tugas kita semua untuk mendukungnya.

*Data diambil dari Bank Indonesia

Mengurus Mutasi Sepeda Motor Tanpa Calo

APBN untuk Siapa?

One thought on “Hidup Lebih Praktis dengan Transaksi Nontunai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *