Mengelola Keuangan Tak Semudah Teori! (tapi bisa dilakukan)

Punya kartu kredit tapi tidak paham cara menghitung bunga dan cicilan? Tidak paham betul produk asuransi tapi merasa tidak enak menolak tawaran agen asuransi yang kebetulan teman sendiri? Ingin berinvestasi tapi bingung memilih produk apa yang sesuai? Saya juga. Dulu.

Sampai usia 25 tahun, saya hanya mengenal satu produk finansial: tabungan. Sejak dulu, saya hanya menyimpan uang di bank dalam bentuk tabungan.

Ketika mulai bekerja sebagai reporter finansial di sebuah koran yang fokus di isu bisnis pada akhir 2012, saya pelan-pelan mengenal beragam jenis produk dan layanan jasa keuangan. Saya memiliki banyak kesempatan untuk mempelajari fungsi, manfaat, risiko, dan cara kerja dari setiap produk.

Sejak awal, saya sangat tertarik dengan isu literasi keuangan. Begitu banyak produk dan layanan keuangan, tapi tak banyak yang paham, apalagi memanfaatkan. Setidaknya itu yang terjadi pada saya, yang hampir sepanjang hidup hanya mengenal produk tabungan heuheuheu.

Berbekal informasi yang saya dapat dari para narasumber, juga dari buku referensi dan buku perencanaan keuangan yang ditulis Ligwinan Hananto dan Prita Ghozie, saya pun mulai mencoba beberapa produk keuangan dan investasi.

Secara teori, mengelola keuangan sebenarnya cukup sederhana. Sebagaimana kerap ditulis dalam buku, rumus pengelolaan keuangan kira-kira seperti ini: 40% pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari, 20-30% untuk cicilan, 10% untuk tabungan dan investasi masa depan dan 10% untuk hiburan.

Teori pengelolaan keuangan sudah saya pahami. Praktiknya? Sulit sekali. hehehehe…

Saya memang belum sepenuhnya mematuhi rumusan 40%+30%+20%+10% perencanaan keuangan ideal, tapi saya sudah mulai mencoba beberapa produk finansial selain tabungan.

Portofolio investasi saya sekarang lumayan beragam, mulai dari tabungan, deposito, reksa dana saham, reksa dana campuran, dan emas batangan. Saya juga memilih membeli asuransi kesehatan tambahan untuk melengkapi manfaat asuransi yang sudah disediakan oleh kantor.

Bukan berarti semua berjalan mulus ya. Salah satu produk reksa dana saham yang saya pilih, misalnya, justru jeblok 15% dalam setahun terakhir. Emas batangan yang saya beli dua tahun lalu juga belum memberikan imbal hasil yang saya harapkan.

Tentu saja saya masih banyak butuh belajar dan mencoba berbagai macam produk dan layanan finansial.

Sebagai penanda ‘perjalanan finansial’ [halah] saya memutuskan untuk menulis dan membagi pengalaman saya mengelola keuangan pribadi melalui blog ini. Mudah-mudahan bermanfaat untuk pembaca.

Memarkir Dana di Deposito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *