BPJS Kesehatan Untung Rp13,4 Triliun?

Beberapa hari lalu saya tertarik mengomentari status seseorang yang dibagikan oleh teman saya di Facebook. Tentang BPJS Kesehatan. Awalnya, di kolom komentar, saya ingin mendebat secara serius poin-poin yang disampaikan, tapi minat saya langsung hilang ketika si Bapak Penulis Status menyebut BPJS dengan PT BPJS. If you know what I mean…. 😀

Ada beberapa poin yang diuraikan, intinya sih dia tidak bersedia ikut program asuransi kesehatan nasional itu. Masalahnya, poin-poin yang dia sampaikan itu salah kaprah. Saya jadi tergerak untuk membahasnya di sini, bukan di kolom komentar Facebook yang terbatas. Semoga bisa membantu meluruskan beberapa fakta yang disalahpahami dan terlanjur disebarluaskan ke orang banyak.

ilustrasi

Poin pertama soal sumber dana BPJS. Si Bapak Penulis Status menyebutkan sumber pendanaan BPJS Kesehatan seluruhnya diambil dari hasil iuran masyarakat peserta program yang dihimpun oleh PT BPJS (iya, dia menyebut PT).

Lebih lanjut dia menulis “BPJS adalah kamuflase pemerintah untuk menutupi penyelewengan dana subsidi BBM. Banyak masyarakat yang mengira BPJS didanai dari pengalihan subsidi dari BBM ke bidang kesehatan. Masyarakat lupa bahwa tiap bulannya mereka menyetor dana minimal Rp25.000 perbulan. Peserta BPJS ditaksir kini mencapai 168 juta jiwa, jadi dana yang dihimpun dari masyarakat oleh pemerintah mencapai lebih dari Rp4,2 triliun perbulan atau lebih dari Rp50,4 triliun pertahun. Itu uang yang dikumpulkan langsung dari masyarakat, bukan dari sektor pajak atau pengalihan subsidi BBM”.

Hm, memang benar sumber pendanaan BPJS berasal dari iuran masyarakat peserta BPJS Kesehatan seperti saya, Anda, dan para peserta lainnya. Tapi tidak seluruhnya. Kenapa? Karena sampai sekarang, jumlah iuran dari peserta belum cukup untuk membayar klaim yang diajukan oleh para peserta yang sakit; untuk bayar Puskesmas, rumah sakit, biaya obat-obatan, dan lain-lain. Sepanjang Januari-September 2015, total iuran yang diterima adalah senilai Rp39 triliun, tapi klaim yang dibayar mencapai lebih dari Rp41 triliun. (Saya belum mendapatkan data mutakhir per-akhir Desember 2015, segera saya update begitu laporan keuangan tahunan dirilis).

Oleh karena itu, pemerintah masih cawe-cawe memberikan subsidi untuk menutup kekurangan itu. Pada 2015, subsidi pemerintah dalam bentuk Penanaman Modal Negara kepada BPJS Kesehatan mencapai Rp5 triliun. Subsidi itu sumbernya dari APBN tentu saja, entah dari pos mana, dan bukan tidak mungkin berasal dari anggaran yang sebelumnya digunakan untuk subsidi BBM yang besarnya sekitar Rp300 triliun pertahun itu.

http://finansial.bisnis.com/read/20151127/215/496447/pencairan-dana-pmn-mandek-bpjs-kesehatan-galau

Poin kedua, soal pengelolaan dana di BPJS Kesehatan. Si Bapak Penulis Status menyebutkan bahwa BPJS Kesehatan adalah sebuah badan usaha yang fungsinya sebagai pengeruk keuntungan. Perhitungannya, dana yang dihimpun selama setahun mencapai Rp50,4 triliun, sementara total klaim yang dibayarkan cuma Rp37 triliun. Jadi, menurut si Bapak, ada sisa uang Rp13,4 triliun yang dikeruk oleh pemerintah.

Si Bapak menulis begini “Hmmm…teryata selama ini PT BPJS untung banyak lho.. Dengan adanya BPJS, pemerintah sama sekali tidak pernah memberikan jaminan kesehatan gratis kepada masyarakat. Padahal selama ini pemerintah selalu menyebarkan propaganda bahwa BPJS itu adalah subsidi kesehatan gratis dari pemerintah. Padahal pemerintah tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk BPJS, dan BPJS itu pyur 100% dana dari masyarakat. Jadi bohong banget kalau pemerintah mengklaim telah memberikan jaminan kesehatan gratis kepada masyarakat.”

Jika merujuk penjelasan saya di poin pertama, secara otomatis argumen yang disampaikan Bapak Penulis Status ini batal ya…

Poin ketiga, soal jaminan kesehatan yang diberikan oleh BPJS. Memang, sebagai lembaga yang baru beroperasi selama dua tahun, pelayanan yang diberikan BPJS Kesehatan masih jauh dari sempurna. Banyak sekali pemberitaan mengenai pasien yang terlantar, rumah sakit yang terlalu sesak oleh pasien, obat-obatan yang terbatas, dokter yang kelelahan, dll dst. Tapi, hal yang menggelitik saya adalah pernyataan dari Bapak Penulis Status yang menyebutkan bahwa, “Dengan biaya iuran BPJS sebesar Rp25.000 perbulan seharusnya masyarakat memperoleh kualitas pelayanan kesehatan yang maksimum (first class service/VIP class di RS).”

Halo, Bapak, boleh kasih tahu saya di mana saya bisa mendapatkan servis asuransi VIP dengan premi Rp25.000 perbulan? *serius nanya*

Duh, kok jadi sarkas begini ya….

Saya bukan pegawai BPJS Kesehatan. Saya juga tidak dibayar untuk menulis ini. Saya hanya gemas melihat orang-orang yang mungkin tidak puas dengan layanan BPJS lantas membabi-buta membenci, dan menularkan kebencian itu kepada orang lain dengan menyebarkan informasi yang tidak tepat.

Saya sendiri awalnya memang skeptis dengan program BPJS Kesehatan, dan sempat agak gondok ketika perusahaan tempat saya bekerja menghilangkan fasilitas asuransi kesehatan swasta dan menggantinya dengan BPJS. Saya gondok karena dengan mengikuti sistem BPJS, berarti saya harus melewati proses pelayanan kesehatan yang berjenjang, dimulai dari Puskesmas atau dokter keluarga. Jika memanfaatkan asuransi kesehatan swasta, saya kan bisa langsung berobat ke rumah sakit.

Tapi kemudian saya berpikir ya sudah lah ya, relakan saja 5% gaji untuk disetor setiap bulan ke BPJS Kesehatan. Jika suatu saat butuh akan saya manfaatkan. Tapi jika ingin lebih nyaman, saya memilih asuransi swasta yang preminya saya bayar secara mandiri.

Potongan 5% gaji saya, yang semoga dikelola dengan baik oleh BPJS Kesehatan, insya Allah bermanfaat bagi orang lain 🙂

Meskipun masih jauh dari sempurna, saya melihat BPJS Kesehatan sebagai itikad baik. Program ini, paling tidak, telah memberikan kesempatan kepada mereka yang sebelumnya belum terjangkau oleh asuransi swasta atau asuransi PNS (Askes), mereka yang sebelumnya takut masuk ke rumah sakit karena khawatir biaya, dan mereka yang bahkan tidak pernah merasakan pelayanan kesehatan sama sekali.

Mendeteksi Jebakan Investasi Bodong

Asuransi Unitlinked, Teliti Sebelum Membeli

One thought on “BPJS Kesehatan Untung Rp13,4 Triliun?

  1. Dan rencana pemerintah untuk program BPJS itu sudah ada sejak aku kerja di Askes tahun 2007. Barulah terlaksana per 1 januari 2014. Lumayan lama kan “nggodoknya”. Pastilah lah ya pemerintah sudah belajar banyak tentang asuransi yang bisa memfasilitasi seluruh masyarakat Indonesia.

    Sejak dari Askes yang pesertanya PNS saja klaim per bulan itu sudah membengkak. Apalagi sekarang seluruh masyarakat Indonesia. Sistem subsidi silang dari premi 25000 itu nggak cukup untuk menutup seluruh biaya kesehatan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *