Bermain dan Belajar Bersama Start-up di IKF VI

Kartu pass kuning untuk masuk ke acara IKF VI

Tak lama setelah menulis betapa saya ingin menghadiri Indonesia Knowledge Forum atau IKF VI, kesempatan itu datang. Salah seorang perwakilan panitia mengundang saya menghadiri acara yang berlangsung selama dua hari itu. Gratis.

“BCA mau kasih 1 tiket acara IKF VI senilai Rp4 juta dengan syarat: 1. Peserta harus hadir selama dua hari untuk mengikuti acara ini. 2. Peserta diminta untuk menulis artikel seputar IKF di blog (minimal satu artikel—kalau mau nulis lebih syukur alhamdulillah).” Demikian pesan singkat itu saya terima beberapa hari menjelang pelaksanaan acara. Tentu saja saya mau!

Selasa, 3 Oktober 2017, saya telah bersiap sejak pagi. Dari tempat tinggal saya di Palmerah, biasanya dibutuhkan waktu tak kurang dari 45 menit untuk mencapai Ritz Carlton Pacific Place karena jalur yang padat dan memutar. Tapi pagi itu jalanan terasa agak longgar sehingga perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Saya sampai di venue IKF VI pagi-pagi sekali, sebelum acara dimulai pukul 08.30 WIB. Saya pun segera menuju meja registrasi untuk mendaftarkan diri dan mengambil kartu pass untuk dua hari yang berharga Rp4 juta itu.

Saat di meja registrasi itulah, saya baru menyadari lupa membawa ponsel. Padahal, undangan untuk menghadiri acara itu disampaikan melalui layanan pesan instan yang ada di ponsel. Untungnya, panitia percaya bahwa saya memang benar-benar blogger yang diundang untuk menghadiri acara tersebut sehingga saya diberikan kartu pass untuk masuk.

Akan tetapi, sayang sekali, kartu pass yang diberikan kepada saya hanya berupa ‘kartu kuning’, yakni kartu yang setara dengan kartu pass untuk media massa. Kartu itu berlaku untuk dua hari, tetapi pemegang kartu tidak bebas masuk ke seluruh acara seminar. Kartu kuning hanya memberikan akses untuk masuk ke seminar umum di ballroom dan berjalan-jalan di sekitar area ekspo. Hm.. padahal saya ingin sekali menghadiri setiap seminar yang sudah saya incar sejak awal. Belum rejeki ternyata.

Biar bagaimanapun, saya tetap memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menambah ilmu dan pengalaman.

Di acara pembukaan, ada beberapa hal yang saya catat dari pidato Pak Menteri Kominfo Rudiantara dan pengamat ekonomi Faisal Basri.

Pak Menteri yang masih jetlag sepulang dari perjalanan ke Amerika Serikat bercerita panjang sekali tentang kemajuan industri teknologi informasi di Indonesia. Bahwa saat ini kecepatan Internet di beberapa wilayah di Indonesia (terutama di kota besar seperti Jakarta), telah setara dengan kota-kota lain di dunia. Bahwa saat ini ada banyak sekali perusahaan rintisan atau start up yang bergerak di bidang teknologi informasi telah berkembang sedemikian rupa, bahkan 3 di antaranya telah menjadi unicorn yang melesat dengan nilai investasi menembus US$1 miliar.

“Saya sendiri yang mengantar ketiga unicorn ini ke Sillicon Valley di Amerika Serikat untuk mendapatkan investor, sebelum mereka sebesar ini. Tokopedia, Gojek, dan Traveloka. Sebab saya melihat ada potensi,” katanya.

Setelah Pak Menteri turun panggung seusai secara resmi membuka acara IKF VI, muncullah Pak Faisal Basri dengan gaya khasnya yang sinis penuh kritik kepada pemerintah. Sayang sekali kedua orang pembicara utama itu tidak dihadirkan dalam satu panggung. Kalau iya, bisa ramai karena ‘berantem’ heuhuehue…

Pak Faisal, seperti biasa, memaparkan presentasi penuh data. Meskipun materi yang disampaikan serius, tetapi pengamat ekonomi yang saat ini diminta Bu Menteri Susi Pudjiastuti untuk menjadi staf ahli itu bisa menyampaikannya dengan segar dan penuh canda. Alhasil, waktu presentasi plus tanya jawab yang berlangsung lebih dari satu jam itu tak terasa membosankan.

Beberapa hal yang saya catat di antaranya adalah: pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Mau tidak mau, setelah lewat masa booming harga komoditas, pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan terlalu tinggi.

Kedua, tentang sumber tenaga perekonomian. Menurut Pak Faisal, perekonomian punya dua ‘jantung’. Disebut jantung karena menarik dana dari masyarakat dan memompakannya kembali ke masyarakat. Kedua jantung itu adalah perbankan dan pemerintah melalui APBN. Kedua jantung itu bertugas menarik dana, lalu menyalurkannya dalam bentuk pembiayaan yang diharapkan dapat menggerakkan perekonomian. Sayangnya, kata Pak Faisal lagi, fungsi kedua jantung itu juga belum seluruhnya optimal. Perlu ada energi tambahan. Dari mana energi tambahan itu? Industri baru 4.0, ekonomi digital, dan reorientasi kebijakan pemerintah.

EKSPO START-UP

Karena tidak memiliki akses masuk ke ruang-ruang seminar, saya menghabiskan waktu untuk berkeliling di area ekspo tempat pada pelaku usaha rintisan yang terpilih oleh BCA untuk berpameran.

Setelah mengamati beberapa booth, saya menyimpulkan bahwa semangat dari para start up ini kurang lebih sama: memberikan akses mudah kepada khalayak lebih luas untuk mendapatkan fasilitas ataupun layanan yang belum bisa didapat melalui institusi atau lembaga yang saat ini sudah ada.

Misalnya, KlikAcc. Perusahaan peer to peer lending yang beroperasi sejak tahun lalu itu menyalurkan pembiayaan kepada para pelaku usaha UMKM dengan nilai antara Rp20 juta-Rp40 juta. Model bisnis yang dipilih adalah kemitraan dengan para calon peminjam sehingga proses transaksi pinjam-meminjam lebih nyaman bagi kedua belah pihak.

Contoh lainnya adalah Garasi.id yang bergerak di bidang pembiayaan mobil bekas. Garasi.id merupakan sister company Kaskus. Didukung oleh basis komunitas Agan-agan Kaskus yang sejak lama aktif di forum jual beli, Garasi.id memberikan pelayanan pembiayaan dengan pendekatan berbeda kepada para pelanggan.

Saya juga sempat berbincang dengan salah seorang tenaga pemasar dari KaryaOne. Menurut Mas yang saya lupa namanya (kartu nama dia juga saya lupa simpan di mana. My bad), KaryaOne menyediakan software untuk mempermudah tugas HRD di kantor. Software itu menyediakan sistem yang saling terintegrasi antara absensi (atau presensi?), daftar cuti, pembayaran gaji, pemotongan pajak, asuransi, sistem jaminan sosial, dll dst yang terkait dengan urusan kepegawaian, dalam satu tempat sehingga lebih mudah diatur. Efektif dan efisien. Sistem ini dapat digunakan oleh berbagai macam perusahaan dalam beragam skala, mulai mikro hingga besar sekali. Sebagai bentuk dukungan kepada UMKM, KaryaOne menyediakan software gratis yang dapat digunakan oleh pengusaha pemula yang memiliki paling banyak 10 orang karyawan. Menarik.

IKF VI, walaupun tidak benar-benar saya akses seluruhnya, cukup memberikan pengalaman menarik selama dua hari. Selain menyerap ilmu dari beberapa pembicara, saya juga berkesempatan bertemu dengan beberapa perusahaan start up yang inspiratif.

Semoga ada kesempatan kembali menghadiri event tahunan ini di tahun depan!

Tentang IKF VI dan Mengapa Saya Perlu Datang ke Sana

Kebun Bunga Krisan, Wajah Baru Pariwisata Bandungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *