Berdaya Bersama Koperasi Gemah Sumilir

jumilah

Jumilah, pengrajin batik tulis anggota Koperasi Gemah Sumilir sedang menunjukkan kain batik setengah jadi yang sedang dikerjakannya. Kain batik hasil karyanya dipasarkan melalui koperasi dengan label “Jumilah Kedoengwuni”.

Koperasi Gemah Sumilir di Kabupaten Pekalongan mengajak para pengrajin dan pengusaha kecil untuk bersama-sama, saling bergandeng tangan, meraih mimpi mereka.

***

Jumilah terus menyunggingkan senyum saat bercerita tentang cintanya terhadap batik yang bersemi kembali. Batik, yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya, kini benar-benar mampu menghidupinya.

Jumilah adalah perempuan berusia 49 tahun asal Kedungwuni, Pekalongan. Sejak kecil dia telah dididik oleh ibu dan neneknya untuk mengakrabi kain, canting, cairan lilin panas, dan motif-motif batik tulis kuno khas Kedungwuni. Karirnya sebagai pembatik dimulai sejak berusia 9 tahun. Ketika itu, Jumilah mampu menyelesaikan satu lembar kain bermotif merak dan burung puyuh yang dikerjakan seluruhnya dengan tangannya sendiri.

Selama belasan tahun, Jumilah bekerja sebagai karyawan seorang pengusaha batik tulis terkenal di Kedungwuni. Karya-karyanya telah melanglang buana ke tangan-tangan para pecinta batik tulis di seantero negeri, bahkan menjumpai para penikmat kain tradisional ini hingga ke luar negeri. Sayangnya, keahlian membatik tidak bisa menghidupinya secara layak. Pendapatan sebagai pengrajin batik tidak cukup untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari yang terus meningkat. Terpaksa, lima tahun lalu, Jumilah menyerah dan memutuskan tinggal di rumah mengurus rumah tangga sambil membantu suaminya mengelola sepetak sawah milik keluarga.

Angin segar berembus ketika Fatkhul Huda, bendahara Koperasi Gemah Sumilir, mengajaknya bergabung sebagai anggota koperasi. Sebagai anggota, Jumilah berkesempatan mendapatkan pinjaman modal untuk memproduksi batik tulis, sekaligus menitipkan kain-kain batik hasil goresan tangannya untuk dijual melalui koperasi.

Sejak bergabung sebagai anggota koperasi, Jumilah mengaku pendapatannya sebagai pembatik meningkat tajam. Kain batik tulis karyanya yang dipasarkan melalui koperasi rata-rata terjual senilai Rp9 juta perlembar. Dalam satu bulan, jumlah produksi kain batik tulis bisa mencapai 2-4 lembar. Padahal, ketika masih menjadi karyawan, Jumilah dibayar Rp4 juta untuk menyelesaikan motif batik di selembar kain sepanjang 2,3 meter yang dia kerjakan selama kurang lebih dua bulan.

Selain pendapatan yang meningkat, Jumilah juga merasa bangga bergabung sebagai anggota koperasi, karena dia berkesempatan memproduksi kain batik tulis yang diberi label atas namanya sendiri. Kain-kain batik hasil karyanya kini beredar di pasar dengan label “Jumilah Kedoengwuni”.

Jumilah tak sendiri. Ada 20 pembatik yang juga telah bergabung sebagai anggota Koperasi Gemah Sumilir. Seluruhnya perempuan, dengan rentang usia antara 35 tahun hingga 55 tahun. Koperasi memberikan fasilitas pemasaran produk, pelatihan manajemen, dan bantuan modal.

Para perempuan pembatik ini tak lagi khawatir dengan masalah keuangan keluarga, karena telah teratasi oleh hasil penjualan kain-kain batik tulis mereka. Kini, mereka bisa berkonsentrasi penuh merawat cinta mereka terhadap batik, dan sekaligus melestarikan budaya yang telah dikenal luas ini.

Batik Kedungwuni

Kain Batik Tulis Kedungwuni bermotif merak dalam proses pengerjaan. Dipasarkan melalui Koperasi Gemah Sumilir, kain batik tulis ini terjual dengan harga rata-rata Rp9 juta perlembar.

Didirikan sejak 2013, koperasi Gemah Sumilir kini telah merangkul 117 anggota. Mereka adalah para pembatik tulis, pengrajin enceng gondok, tenun sutra, aneka macam kerajinan tangan, dan kuliner khas Pekalongan.

Koperasi yang berlokasi di Wiradesa, Kabupaten Pekalongan ini hadir dibidani oleh anak-anak muda yang berasal dari beragam latar belakang bidang usaha. Mereka memilih berserikat agar dapat menghimpun energi lebih besar untuk membesarkan usaha setiap anggota koperasi.

Ada banyak mimpi yang dibagi dan dikejar bersama. Salah satu yang paling dekat adalah merealisasikan desa wisata berbasis batik, kerajinan tangan, dan alam, di kawasan Kabupaten Pekalongan. Bekerja sama dengan salah satu bank swasta nasional, Koperasi menggagas sebuah inovasi berupa kawasan wisata terpadu yang akan mengajak para wisatawan berkunjung ke sejumlah tempat pilihan yang merupakan basis pengrajin batik tulis, tenun, dan kerajinan tangan lainnya khas Pekalongan.

Mimpi-mimpi lainnya adalah ingin menyejahterakan para anggota dan memberikan kesempatan untuk terus berkarya. “Kami ingin besar bersama-sama,” ujar Amin Maizun, Ketua Koperasi Gemah Sumilir yang juga pengusaha kerajinan tenun sutera.

SEMARANG (10/5) Pekerja di usaha kerajinan tenun sutera di Pakumbulan, Kabupaten Pekalongan, kemarin. Sejumlah UMKM di Kabupaten Pekalongan mulai tergerak untuk ikut bergabung menjadi anggota Koperasi. Selain cakupan pasar yang lebih luas, UMKM yang menjadi anggota koperasi juga mendapatkan manfaat berbagai pelatihan serta informasi pameran baik yang bersifat lokal maupun internasional.-SINDO/Arif Nugroho

Pekerja di usaha kerajinan tenun sutera di Pakumbulan, Kabupaten Pekalongan. Sejumlah UMKM di Kabupaten Pekalongan mulai tergerak untuk ikut bergabung menjadi anggota Koperasi Gemah Sumilir. Selain cakupan pasar yang lebih luas, UMKM yang menjadi anggota koperasi juga mendapatkan manfaat berbagai pelatihan serta informasi pameran baik yang bersifat lokal maupun internasional.

Anak-anak muda pegiat koperasi Gemah Sumilir dari Pekalongan memilih untuk bekerja bersama, melakukan apa yang mereka bisa untuk membesarkan usaha mereka sekaligus membantu meningkatkan taraf hidup para anggota koperasi. Ini adalah sebuah langkah kecil yang dilakukan untuk Indonesia. Saya bangga bisa menjadi bagian dari mereka.

*Foto-foto oleh Arif Nugroho, suamiku 🙂

Cara Mudah Membeli Reksa Dana Secara Online

Mengelola Cashflow Bulanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *