Bank-bank di Indonesia Milik Siapa?

rush-money

gambar diambil dari Indowarta

Isu tentang rush money atau penarikan uang secara besar-besaran dari sistem perbankan nasional sempat menghangat dalam beberapa waktu terakhir. Puncaknya hari ini, Jumat 25 November 2016, ketika masyarakat dianjurkan menarik uang dari bank konvensional untuk dipindah ke bank syariah, disimpan di bawah bantal, atau dialihkan ke tempat lain.

Saya pribadi tidak mendapatkan broadcast pesan berisi imbauan untuk melakukan rush money. Akan tetapi saya penasaran mengikuti isu ini setelah beberapa teman membahasnya di media sosial.

Di Instagram, setelah browsing dengan kata kunci #rushmoney, saya melihat ada ribuan posting mengenai ini. Sebagian besar adalah unggahan berupa gambar Rizieq Shihab dengan kutipan berisi ajakan rush money sebagai bagian dari aksi bela Islam. Ada juga yang mengunggah foto tumpukan uang tunai berikut buku tabungan, dengan keterangan bahwa mereka menarik uang dari bank untuk mendukung rush money.

Saya gagal paham sih dengan ajakan rush money, karena tidak jelas betul ke mana muaranya. Ada yang mengajak memindahkan uang dari bank konvensional ke bank syariah. Ada yang menganjurkan menarik uang di bank untuk kemudian disimpan di rumah atau diputar untuk bisnis. Ada pula yang mengimbau penarikan uang dari sistem perbankan, dan mengajak menukarnya dengan dirham dan dinar.

Alasan pertama, yakni memindahkan uang dari bank konvensional ke bank syariah, menurut saya masih masuk akal. Alasan kedua, menarik uang di bank dan disimpan dirumah, menurut saya sangat berisiko. Selain faktor keamanan, ada juga risiko pengeluaran menjadi tidak terkontrol. Itu bagi saya. Mungkin tidak berlaku untuk orang lain yang memiliki brankas super aman di rumah dan tahan dari godaan belanja walaupun ada banyak uang tersedia menganggur di rumah 😀

Alasan selanjutnya, diputar untuk bisnis. Hm, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk berbisnis. Dan, kalaupun uang itu dimanfaatkan untuk memberikan modal kepada orang lain yang lihai berbisnis, risikonya juga tidak kecil. Masih bisa dilakukan, tetapi harus sangat cermat dan hati-hati.

Lalu, alasan terakhir, yang membuat saya agak bingung. Ada seseorang yang mengajak menarik uang di bank karena dalam era digitalisasi sekarang ini bank bisa saja membekukan dana nasabah, oleh karena itu beralihlah ke dinar dan dirham. Oke, fix, saya bingung dengan pernyataan ini. Kalau di-jembereng bisa satu postingan panjang hanya untuk membahas tentang argumen yang disampaikan si bapak ini. Tapi kali ini saya hanya ingin berkomentar satu saja: Pak, setahu saya, kita masih hidup di Indonesia dan mata uang resmi kita masih Rupiah. Dinar dan dirham cukup dikoleksi saja ya, Pak…

rush-money-2

errrrrr

Saya tidak ingin lebih berpanjang-panjang lagi menanggapi isu rush money, karena posisi saya sudah pasti kontra heuheuheu.. Di sini, saya hanya ingin urun rembug sedikit untuk memberi pertimbangan kepada Masbro dan Mbaksis yang telah memutuskan menarik uang mereka dari bank namun kemudian bingung mau menyimpannya di mana.

Jika saya tidak salah menyimpulkan, propaganda ‘rush money sebagai aksi bela Islam’ ini bersumber dari keinginan ‘memberi pelajaran kepada para cukong China yang menguasai industri perbankan nasional dan mengambil keuntungan dari umat muslim yang menyimpan uang di bank’. Jika dana ditarik dari bank-bank milik taipan dari ras China, maka mereka akan bangkrut, lalu Islam akan berjaya. ((duh, tidak nyaman sekali rasanya saya menulis kalimat seperti itu)).

Oke, jika isu kepemilikan bank menjadi begitu penting bagi Masbro dan Mbaksis yang memutuskan mengikuti ajakan rush money dengan alasan super rasis sebagaimana yang saya tuliskan di atas, maka ada baiknya terus menyimak tulisan ini, karena saya akan menjelaskan struktur kepemilikan saham bank-bank terbesar di Indonesia. Jangan sampai Anda, yang sudah repot-repot antre di bank atau ATM untuk menarik dana tabungan dari ‘bank milik China’ justru terjebak ke ‘bank milik kafir’ atau ‘bank milik antek Yahudi’ lainnya.

Ohya, saya mengumpulkan informasi mengenai struktur kepemilikan saham bank-bank ini dari informasi terbuka yang dimuat di laporan keuangan tahunan 2015 milik bank-bank tersebut. Laporan itu bisa diunduh di website bank, bisa juga di website Bursa Efek Indonesia, karena bank-bank besar ini seluruhnya adalah perusahaan terbuka.

Berikut daftarnya:

  1. Bank Mandiri

60% pemerintah RI

40% publik

Kesimpulan, mayoritas saham bank ini milik pemerintah RI. Sisanya, 40%, milik publik dengan kepemilikan masing-masing kurang dari 5%. Publik ini isinya macam-macam ya, ada investor lokal dan ada pula investor asing, bisa berupa institusi bisa juga pribadi.

  1. BRI

56,75% pemerintah RI

43,25% publik.

Kesimpulan, mayoritas saham bank ini milik pemerintah RI. Sisanya, 43,25%, milik publik dengan kepemilikan masing-masing kurang dari 5%. Publik ini isinya macam-macam, ada investor lokal dan ada pula investor asing, bisa berupa institusi bisa juga pribadi.

  1. BCA

47,15% FarIndo Investments Ltd.

1,76% Anthony Salim

51,09% publik

FarIndo Investments Ltd merupakan perusahaan investasi berbasis di Mauritius. Pemegang saham terakhir (ultimate shareholders) dari entitas ini adalah Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono. Mereka adalah konglomerat pengusaha rokok Djarum.

Berdasarkan informasi terakhir pada 15 November 2016, terjadi perpindahan saham dari FarIndo ke PT Dwimuria Investama Andalan. Dwimuria Investama adalah perusahaan baru yang berlokasi di Kudus, Jawa Tengah. Menurut informasi yang beredar, perusahaan ini masih termasuk dalam Group Djarum. Jadi ya tetap saja, pengendali utama BCA adalah konglomerat Djarum. Informasi ini saya kutip dari sini.

  1. BNI

60% pemerintah RI

40% publik

Kesimpulan, mayoritas saham bank ini milik pemerintah RI. Sisanya, 40%, milik publik dengan kepemilikan masing-masing kurang dari 5%. Publik ini terdiri atas 29,47% investor asing, dan sisanya 10,52% investor lokal.

  1. CIMB Niaga

96,92% CIMB Group Sdn Bhd

1,02% PT Commerce Kapital (anak perusahaan CIMB Group)

2,06% publik

Kesimpulan, kepemilikan saham bank ini dikuasai oleh investor dari Malaysia.

  1. Bank Panin

46,04% PT Panin Financial Tbk

38,82% ANZ Bank melalui Votraint No 1103 Pty Ltd

15,14% publik

Siapa di balik PT Panin Financial Tbk? Saya agak bingung menjelaskannya. Tapi bisa dicek sendiri di sini.

  1. BTN

60% pemerintah RI

40% publik

Kesimpulan, mayoritas saham bank ini milik pemerintah RI. Sisanya, 40%, milik publik dengan kepemilikan masing-masing kurang dari 5%. Publik ini terdiri atas 26,85% investor asing, dan sisanya 13,15% investor lokal.

  1. Bank Permata

44,56% PT Astra International Tbk

44,56% Standard Chartered Bank

10,88% publik

Silakan disimpulkan sendiri.

  1. Bank Danamon

67,37% Asia Financial Pte Ltd

6,58% JPMCB Franklin Templeton Investment Funds

26,05% publik

Asia Financial adalah investor yang berbasis di Singapura.

  1. Maybank Indonesia

45,02% Sorak Financial Holdings Pte Ltd

33,96% Maybank Offshore Corporate Service Sdn Bhd

18,31% UBS AG London

2,71% publik

Pemegang saham Sorak Financial adalah Maybank Offshore Corporate Services Sdn Bhd, perusahaan yang seluruhnya dimiliki oleh Malayan Banking Berhad. Malaysia punya.

  1. OCBC NISP

85,08% OCBC Overseas Investments Pte. Ltd

14,91% publik

0,01% direksi dan komisaris

OCBC adalah investor asal Singapura yang telah berpengalaman di industri perbankan dan memiliki jaringan internasional.

  1. Bank Bukopin

30% PT Bosowa Corporindo

18,09% Kopelindo

11,43% Pemerintah RI

40,48% publik

Sebagian besar saham dimiliki oleh publik, tetapi dengan kepemilikan masing-masing kurang dari 5% alias kecil-kecil sekali. Jadi, di sini, pemegang saham pengendali adalah Bosowa, perusahaan lokal berbasis di Makassar yang didirikan oleh Aksa Mahmud.

  1. BTPN

40% Sumitomo Mitsui Banking Corporation

20% Summit Global Capital Management B.V.

8,38% TPG Nusantara SARL

31,62% publik

Pemilik mayoritas saham BTPN, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, adalah bank terbesar di Jepang.

  1. Bank Mega

57,82% PT Mega Corpora

42,18% publik

Siapa pemilik Mega Corpora? Adalah Chairul Tanjung dan keluarga.

Nah, jadi sudah ketahuan kan siapa pemilik bank-bank dengan aset terbesar di Indonesia, yang jaringannya sampai ke mana-mana bahkan sampai ke pelosok negeri. Bank-bank milik pemerintah cukup mendominasi dari sisi aset dan juga jaringan. Selain itu, ada pula bank-bank yang sahamnya dikuasai oleh konglomerat lokal dari Group Djarum, Chairul Tanjung, ataupun Bosowa.  Juga ada kontribusi dari investor asing dari Singapura, Malaysia, Jepang. Di luar bank yang saya sebutkan di atas, ada juga investor asing dari Australia, New Zealand, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.

Jadi mau dipindahkan ke mana?

Jika Anda sedang  menimbang-nimbang untuk memindahkan uang ke bank syariah, rata-rata bank syariah yang ada di Indonesia adalah anak perusahaan atau unit usaha syariah dari bank-bank yang saya sebutkan di atas. Artinya, kepemilikannya masih sama: pemerintah, asing, publik.

Ohya, ada satu bank syariah yang berdiri sendiri dan tidak terafiliasi dengan bank-bank konvensional: Bank Muamalat. Sebagai informasi, bank syariah pertama di Indonesia ini  dimiliki oleh Islamic Development Bank (IDB) dengan porsi kepemilikan saham sebesar 32,74%. Sementara pemegang saham lainnya, yaitu Boubyan Bank Kuwait sebesar 22%, Atwill Holdings Limited sebesar 17,91%, National Bank of Kuwait 8,45%, IDF Foundation 3,48%, BMF Holdings Limited 2,84%, M. Rizal Ismael 2,34%, Koperasi Perkayuan Apkindo MPI 1,39%, Andre Mirza Hartawan 1,18%, BPDONHI 1,03%, serta masyarakat 6,64%.

Jika memang pilihannya adalah bank syariah, ada juga pilihan lainnya, yakni bank-bank BPD Syariah milik pemerintah daerah. Bisa pula dana dipindahkan ke lembaga keuangan syariah yang lebih kecil seperti Baitul Mal wa-Tamwil (BMT) yang banyak tersebar di daerah, termasuk di kampung halaman saya Pekalongan.

Pilihan tentu ada di tangan Anda sebagai pemilik uang. Namun, jika saya boleh memberi masukan, pastikan uang itu disimpan di tempat yang tepat. Jika memilih institusi keuangan, pastikan lembaga itu berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  Mengapa demikian? Sebab OJK adalah regulator di industri jasa keuangan. Jika ‘ada apa-apa’ di kemudian hari, ada lembaga yang bertanggung jawab. Jika misal bank tempat kita menyimpan uang bangkrut, regulator menjamin uang nasabah tidak hilang selama mengikuti ketentuan yang berlaku. Jika uang disimpan di tempat yang tidak diawasi oleh regulator, tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Soal ini sudah pernah saya bahas di sini.

Bagaimana cara mengetahui sebuah bank atau institusi keuangan terdaftar dan diawasi oleh OJK? Cek di website www.ojk.go.id, atau telepon ke hotline OJK di 021-600655.

Dari postingan yang super panjang ini, intinya sih saya mengajak untuk berhati-hati. Jangan mudah terbawa emosi dan jangan mudah tergiur iming-iming. Bersikaplah rasional.

Have a good day!

Trump Effect: Duh, Investasi Saya Digoyang Donald Trump!

Mencairkan Reksa Dana

6 thoughts on “Bank-bank di Indonesia Milik Siapa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *