Bagaimana Memulai Investasi?

tiup-tiup-manjah

Hampir setahun rutin menulis di blog ini tentang pengalaman berinvestasi dan mengelola keuangan, ada beberapa teman (dan pembaca blog. YEY!) yang kemudian mengontak saya untuk bertanya-tanya soal investasi. Rata-rata mereka menanyakan tentang bagaimana baiknya memulai investasi. Dimulai dari mana?

Kepada mereka yang bertanya, saya selalu saja mengingatkan kembali bahwa saya bukan perencana keuangan profesional yang sudah memiliki lisensi (certified financial planner). Apa yang saya tulis di blog adalah murni pengalaman saya sendiri, yang mudah-mudahan bisa sedikit membantu untuk dijadikan salah satu pertimbangan. Meski bukan profesional, saya tetap senang berbagi cerita, apalagi jika cerita pengalaman saya bisa menginspirasi.

Sependek pengalaman dan sedangkal pengetahuan saya mengenai investasi, bolehlah saya menyarikan tahapan yang telah saya lalui selama ini. Langsung saja, berikut ini beberapa tips bagi pemula yang ingin mulai berinvestasi:

  1. Mulailah dengan tertib mencatat pemasukan dan pengeluaran bulanan

Tahapan ini penting dilakukan untuk mengetahui secara persis pengelolaan keuangan sebelum kemudian memutuskan untuk berinvestasi. Ketika semua dicatat, kita akan memahami neraca keuangan pribadi, yakni, dari mana saja sumber pendapatan dan mengetahui ke mana saja uang kita dibelanjakan.

Dengan mencatat neraca keuangan sehari-hari, kita juga bisa mendeteksi kemampuan kita dalam berinvestasi. Apakah kita benar-benar mampu menyisihkan dana untuk berinvestasi, atau justru kita sedang punya banyak masalah yang perlu dibenahi, seperti utang yang harus segera dilunasi.

  1. Mengukur kemampuan

Tahap selanjutnya adalah mengukur kemampuan. Semangat boleh saja menggebu, tetapi tetap saja harus berhati-hati. Apapun yang berlebihan selalu saja berdampak tidak baik. Sebelum berinvestasi, terlebih dahulu hitung kemampuan kita, seberapa banyak sih yang bisa disisihkan untuk berinvestasi. Caranya adalah dengan menghitung pendapatan, kemudian dikurangi dengan pengeluaran. Sisanya dihitung lagi kira-kira berapa yang pas.

Sebagai contoh, saya adalah seorang karyawan yang mendapatkan gaji bulanan. Sumber pendapatan utama saya ya gaji. Di luar gaji, kadang-kadang saya mendapatkan rejeki tambahan berupa bonus semesteran/bonus tahunan dari kantor, hadiah uang tunai/voucher belanja dari kuis-kuis di Instagram atau di FB, atau tambahan pendapatan lain yang insya Allah halal.

Nah, karena pendapatan utama saya masih dari gaji, maka itu lah yang saya hitung sebagai sumber pendapatan. Tambahan pendapatan lain biasanya langsung saya belanjakan buat hiburan, atau langsung meluncur ke tabungan.

Dari gaji perbulan, saya biasanya menghabiskan sekitar 60% untuk kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk asuransi, hiburan, jajan, dan belanja kebutuhan non-rutin seperti kosmetik, baju, sepatu, atau buku-buku. Sisanya, 40%, saya sisihkan untuk tabungan, dana darurat, dan investasi.

Ini berarti kemampuan saya untuk menabung dan berinvestasi adalah 40% dari gaji. Tidak boleh lebih dari itu. Jika dipaksakan, anggaran untuk biaya hidup sehari-hari akan berkurang dan itu berarti kualitas hidup akan turun. Saya tidak ingin itu terjadi karena bisa berakibat buruk buat kesehatan jiwa 😀

Menetapkan batasan investasi sesuai dengan kemampuan sangat penting. Engga usah ngoyo.

  1. Latihan berkomitmen

Setelah mengetahui kemampuan sampai sejauh mana, maka saatnya mulai melatih komitmen. Iya, komitmen berinvestasi perlu dilatih, apalagi bila kita belum berpengalaman menyisihkan uang untuk menabung. Bayangkan saja, biasanya bebas belanja ini itu lalu tiba-tiba ‘terpaksa’ harus menyisihkan uang untuk berinvestasi. Oleh karena itu, perlu latihan. Pelan-pelan.

Berkomitmen untuk berinvestasi bisa dimulai dengan membuka tabungan berjangka dengan sistem autodebet. Setiap bulan, bank akan menarik sekian rupiah untuk dimasukkan ke rekening khusus yang tidak dapat diutak-atik hingga masa jatuh tempo.

Tabungan berjangka ini tersedia di hampir setiap bank. Produk ini tidak menawarkan bunga tinggi, tapi memang bukan itu kan tujuannya? Kita membuka tabungan berjangka untuk latihan berinvestasi. Beberapa produk juga menawarkan tambahan manfaat asuransi jiwa, meskipun itu bukan tujuan utama. Ingat, tujuan kita adalah untuk membiasakan diri menyisihkan uang untuk berinvestasi.

Di tahap awal, cobalah dengan nilai tabungan yang ‘masuk akal’, dalam artian kita tidak akan merasa terbayang-bayang terus dengan uang itu, dan kualitas hidup tidak berubah dengan ditariknya uang kita setiap bulan. Enteng, kira-kira istilahnya.

Bisa dimulai dengan angka misalnya Rp500.000 perbulan, atau bahkan Rp100.000 perbulan, dalam jangka waktu 1 tahun. Di akhir tahun, kita akan mendapatkan uang tabungan yang cukup lumayan.

  1. Memilih produk

Setelah satu tahun mulai terbiasa menyisihkan uang di tabungan berjangka, setidaknya kita sudah tidak merasa ‘kehilangan’ ketika setiap bulan ada uang yang diinvestasikan. Hidup tetap berjalan dengan baik-baik saja.

Jika sudah menemukan ketenangan batin semacam itu, berarti inilah saatnya berinvestasi dengan lebih serius. Serius di sini maksudnya adalah benar-benar serius memperhatikan instrumen investasi yang dibutuhkan dan cocok dengan kemampuan dan minat.

Bagaimana caranya memilih instrumen investasi yang cocok? Tunggu postingan edisi selanjutnya ya.

Mengapa Tidak Boleh Kirim Paket Berbungkus Kertas Koran?

Membangun Rumah Tanpa KPR

6 thoughts on “Bagaimana Memulai Investasi?

    1. Hai Izzo, perkembangan setelah pindah ke poems belum terlalu kelihatan, kan baru sebulan.. heuheuheu.. nanti ya aku apdet lagi bagaimana perkembangannya, setelah dua atau tiga bulan. Stay tune 😀

      Reply
  1. Hay ka… Saya tertarik banget baca blog kakak… Excited! Boleh bertanya lebih lagi ? Jika boleh mungkin by email ya kaa… Terimakasih 🙂

    Reply
  2. Kak aku tertarik banget baca blog nya. Enak di baca. Trus, bahas lagi dong kak tentang reksa dana. Hehehe
    Aku boleh tanya2 lagi kah? Kalau boleh aku tanya by email ?

    Reply
    1. Hai, Tari!

      Terima kasih atas apresiasinya ya 😊

      Untuk tulisan tentang reksa dana mau dibahas dari sisi mananya lagi nih? Nanti aku coba bahas. Kalau apdet terbaru soal reksa dana milik saya sendiri sementara ini belum ada, karena masih didiemin aja sejak pindah ke platform online. Nanti ditulis lagi kalau ada pergerakan kembali he he..

      Kalau mau tanya lewat email boleh, ke farodila@gmail.com ya..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *