Bagaimana Memulai Investasi (2): Memilih Instrumen yang Cocok

tujuanloapa

Melanjutkan posting soal bagaimana memulai investasi, kali ini saya akan fokus membahas tentang tips dan trik untuk memilih instrumen investasi yang cocok. Saya menulis ini berdasarkan buku-buku dan artikel yang saya baca, dikombinasikan dengan pengalaman pribadi.

Langsung saja.

  1. Pelajari, mantapkan hati

Menurut pengalaman saya, hal pertama yang perlu diperhatikan dalam memilih instrumen investasi adalah kemantapan hati. Sebagai contoh, ada beberapa teman saya yang merasa tidak nyaman berhubungan dengan instrumen keuangan dari bank atau lembaga keuangan lainnya karena khawatir riba. Jika sudah demikian, ya tidak perlu diteruskan karena memang tidak sesuai dengan kata hati.

Bagi saya pribadi, rasa nyaman berinvestasi muncul ketika saya paham cara kerja sebuah instrumen investasi dan merasa sreg dengan cara pengelolaan uang yang saya investasikan. Agar bisa paham, saya banyak-banyak browsing, membaca, dan bertanya. Sebelum memilih sebuah instrumen investasi, saya pastikan telah memahami betul seluruh aspeknya, dari mulai cara kerja hingga potensi dan risikonya. Istilah anak muda zaman sekarang: kepo!

Sumber informasi ada banyak sekali, hanya butuh kuota internet dan kemauan untuk mencari tahu. Komunikasi dari para penyedia jasa layanan keuangan juga semakin membaik, sehingga bahasa yang digunakan dalam penjelasan produk juga semakin ‘manusiawi’. Jika masih bingung, bisa juga membaca blog yang menuliskan pengalaman menggunakan produk-produk keuangan, karena biasanya bahasa blog lebih mudah dicerna.

  1. Kenali profil risiko

Poin ini sangat penting. Sebelum berinvestasi, selalu pastikan kita sudah memahami profil risiko pribadi.

Mengenal profil risiko artinya memahami seberapa besar toleransi kita terhadap risiko kerugian dan seberapa agresif terhadap potensi keuntungan. Ada orang-orang yang santai saja ketika nilai investasi anjlok karena memiliki keyakinan bahwa dalam jangka panjang investasi itu akan kembali naik. Ada pula tipe orang yang langsung kepikiran-sampai-stres ketika keuntungan yang didapat tidak sesuai target.

Bagaimana caranya mengenali profil risiko investasi? Bisa dikira-kira sendiri, sebenarnya. Jika ingin lebih mudah, ada pula aplikasi yang membantu kita mengukur profil risiko. Biasanya berupa formulir yang harus diisi, seperti contohnya ini:

Profil risiko juga bisa diukur langsung ketika hendak berinvestasi. Misalnya, ketika saya akan membuka rekening reksadana melalui bank, mbak-mbak CS terlebih dahulu meminta saya mengisi formulir untuk mengukur profil risiko. Isiannya hampir sama dengan formulir versi online yang saya bagi di atas.

Demikian pula, formulir serupa juga akan muncul ketika hendak memulai berinvestasi secara online. Seperti yang saya temui ketika membuka rekening reksadana secara online.

  1. Tentukan tujuan

“Tujuan lo apa?”

Kalimat singkat khas Ligwina Hananto ini pas betul buat saya. Ketika sudah mengetahui tujuan keuangan yang ingin dicapai, kita akan lebih mudah menentukan produk yang akan dipilih. Penentuan tujuan keuangan akan sangat berpengaruh terhadap jangka waktu, dan  oleh karenanya, sangat amat mempengaruhi pilihan produk investasi.

Sebagai contoh, saya membuka tiga rekening reksa dana untuk dua keperluan yakni untuk mempersiapkan dana pensiun dan membangun rumah. Mengapa perlu dipisah? Karena tujuannya berbeda. Pemisahan tujuan, yang diikuti oleh pemisahan rekening, memudahkan saya ketika pada akhirnya saya memutuskan mencairkan reksa dana untuk keperluan rumah dan tetap meneruskan berinvestasi di reksa dana untuk keperluan dana pensiun.

Karena tujuan saya sudah jelas, yakni mempersiapkan dana pensiun, maka bisa dipastikan ini adalah investasi jangka panjang. Oleh karena itu, saya tidak ragu sama sekali ketika memutuskan memilih instrumen investasi reksa dana saham.

Demikian pula, ketika tujuan keuangan saya bergeser menjadi “memarkir dana sesaat sembari mencari rumah yang cocok” maka saya tahu bahwa pilihan investasi yang pas adalah investasi ‘jangka pendek’ seperti reksa dana pasar uang atau deposito, atau bahkan tabungan.

Oh iya, jika kita memiliki beberapa tujuan keuangan, maka akan lebih baik jika kita menyiapkan rekening terpisah untuk setiap tujuan. Seperti yang saya lakukan.

  1. Mulai

Jadi, tunggu apalagi? Yuk, mulai 😀

Membangun Rumah Tanpa KPR

Reksa Dana Online Menjangkau Pedalaman Kalimantan

4 thoughts on “Bagaimana Memulai Investasi (2): Memilih Instrumen yang Cocok

  1. Halo Dila, Tulisan di blog kamu sangat menarik dan mencerahkan sekali terutama untuk orang yang memulai untuk berinvestasi. Sepertinya setelah saya baca, kondisi kita hampir sama. Hehe, Sama-sama masih “starting karir” dan baru menikah. Oh ya, perkenalkan nama saya Dewi, sekarang saya berusia 26 tahun dan baru tahun lalu menikah. Sebelum menikah saya sudah berinvestasi di 2 macam reksadana (dengan total investasi 1 juta/bulan) dan deposito syariah yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Suami saya juga bekerja, namun penghasilannya sudah habis untuk membiayai cicilan rumah dan mobil, Jadi seluruh kebutuhan sehari-hari dan investasi semuanya bergantung pada gaji saya yang tidak seberapa. Yang ingin saya tanyakan, berdasarkan pengalaman kamu saja, bagaimana cara mengelola investasi untuk pasangan suami istri ini? saya seperti kamu juga menyiapkan dana pensiun yang saya investasikan di reksadana, apakah saya harus membuka reksadana baru untuk suami saya juga dalam menyiapkan masa pensiunnya? Cheers Dila

    Reply
    1. Hai, Dewi!

      Tos dulu, dong. Hehehehe..

      Untuk dana pensiun memang saya siapkan di reksa dana. Tapi suami saya tidak heuheuheu.. Suami tipe orang yang lebih suka berinvestasi di sektor riil. Selain bekerja rutin harian, sekarang suami sedang merintis bisnis pertanian jambu, karena memang sejak kecil hobi bercocok tanam. Jadi menurut saya, investasi pensiun itu ya disesuaikan saja dengan minat dan kebutuhan, juga keyakinan terhadap proyeksi di masa depan. Pilihannya bisa apa saja. Yang penting dan tidak boleh lewat adalah asuransi kesehatan, karena menurut saya pribadi itu pentiiiinnggg banget untuk kebutuhan saat ini. Semoga membantu ya 🙂

      Reply
  2. Mba saya masih kurang paham… Kalo kita inves 100rb di reksadana. Kita inves 3 jd 300rb… Kenapa ga sekali seumur perjnjinnya ko harus tiap bulan saldo kita dipotong gitu… Jadi kalo di itung kita inves setaun aja udah 1,2 jt kali 3 mba…. Trus demine keuntungannya itu hitungannya gimana tiap bulan atau setahun pas kita narik invesnya….

    Reply
    1. Halo Toni,

      Tidak ada kewajiban harus investasi di reksa dana setiap bulan. Yang saya contohkan di sini adalah pilihan saya sendiri, yang memilih invest di reksa dana menggunakan sistem autodebet melalui penarikan saldo rekening saya di bank secara otomatis setiap bulan. Saya memilih autodebet karena saya orang nya pelupa. Kalau autodebet kan otomatis ditarik dari rekening tabungan setiap bulan, jadi tidak mungkin lupa.

      Bila ingin memilih invest di reksa dana tanpa autodebet ya bisa saja. Invest sekali pas daftar, lalu mau ditambahin kapan saja bisa, tinggal diisi ulang (top up) aja, dengan mentransfer sekian rupiah ke Rekening Dana Investasi.

      Keuntungannya diambil kapan? Hmmm.. Bisa kapan saja.

      Jadi begini. Investasi di reksa dana itu idealnya jangka panjang ya. Jadi keuntungannya disimpan aja terus sampai pada akhirnya diambil pas butuh. Tapi kalau mau diambil kapan saja ya bisa. Reksa dana bisa dicairkan seluruhnya lalu ditutup, bisa juga dicairkan sebagian, lalu lanjut invest lagi.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *