Asuransi Unitlinked, Teliti Sebelum Membeli

Jangan mudah percaya pada tawaran sales asuransi, apalagi bila produk yang ditawarkan adalah asuransi berbalut investasi alias unitlinked. Jangan pula mudah tergiur dengan informasi yang tertera dalam brosur, karena seringkali apa yang digambarkan tidak sesuai kenyataan.

Belum lama ini, media sosial sempat diramaikan oleh pemberitaan mengenai seorang nasabah asuransi unitlinked yang merasa dirugikan hingga puluhan juta rupiah. Pasalnya, nilai investasi yang didapatkan tidak sesuai dengan ‘perjanjian’ awal.

Benarkah nasabah asuransi unitlinked ini ditipu?

Saya tidak tahu persis pokok persoalan antara nasabah tersebut dan perusahaan asuransi yang dituntutnya. Namun, jika membaca berita yang memuat kasus itu, setidaknya ada satu kesimpulan sementara yang dapat diambil. Masalah utamanya adalah nasabah itu tidak paham betul produk yang dibelinya.

Suami saya, Mas Slam, juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Pada 2010, ketika sedang mengantre di bank, dia dihampiri oleh seorang sales asuransi. Sales itu menawarkan produk investasi yang sekaligus memberikan perlindungan asuransi, alias unitlinked.

Mas Slam tertarik ketika sales menjelaskan proyeksi hasil investasi yang akan didapatkan dalam jangka waktu lima tahun. Apalagi, sales itu menambahkan gula-gula “kalau Bapak investasi di produk ini, secara otomatis akan mendapatkan perlindungan asuransi.”

Beberapa hari setelah penawaran awal itu, Mas Slam menerima telpon dari kantor pusat perusahaan asuransi yang bersangkutan. Saat itu, sales telemarketing kembali menawarkan produk yang sama, tetapi nilai premi lebih tinggi. Mas Slam menolak, karena anggaran untuk investasi sudah ngepas.

Selama hampir lima tahun, Mas Slam rutin menyetor premi senilai Rp300.000 perbulan melalui sistem autodebet dari rekening tabungannya. Setiap awal tahun, ada laporan tertulis yang diterimanya dari perusahaan asuransi. Sebenarnya dia sudah mulai curiga ketika mendapati laporan keuangan yang menyebutkan hasil investasi jauh lebih rendah dibandingkan hitung-hitungannya sendiri.

Memasuki tahun kelima, saldo yang tertera di laporan keuangan hanya sekitar Rp8 juta. Padahal, jika uang setoran rutin itu dikumpulkan saja di rekening tabungan, saldo yang dihimpun bisa mencapai Rp18 juta.

Menjelang masa berakhirnya polis, kebetulan Mas Slam telah mengenal saya. Kami banyak mengobrol soal pengelolaan keuangan. Saat itulah dia curhat soal saldo investasinya yang sangat jauh dari harapan.

Setelah berdiskusi panjang lebar, saya mengusulkan agar Mas Slam menutup saja rekening asuransi berbalut investasi itu. Lebih baik rekening ditutup, daripada semakin nyesek karena saldo investasi yang sedikit sekali, sedangkan dia masih terus harus menyetor premi hingga masa kontrak polis berakhir.

Mas Slam sangat penasaran mengapa saldo investasinya kecil sekali, jauh lebih kecil dibandingkan jika jumlah uang yang sama disimpan di tabungan. Dia tidak menyadari kalau sebagian dari uang premi yang disetor setiap bulan itu dipotong untuk membayar asuransi. Penyebabnya, sales asuransi yang dulu menawarkan produk itu tidak menjelaskan hal itu secara gamblang. Pun, Mas Slam tidak membaca secara seksama polis asuransi yang diterimanya di awal masa pertanggungan.

Asuransi unitlinked adalah produk asuransi yang ditambahi investasi. Sekali setor uang, nasabah dapat sekaligus mendapatkan dua manfaat, yakni asuransi dan investasi. Praktis.

Sebelum buru-buru membeli produk ini, perlu dipahami bahwa asuransi dan investasi berbeda fungsi, berbeda pula pembiayaannya. Asuransi adalah ‘uang hangus’, dalam artian uang yang kita bayarkan untuk mendapatkan perlindungan asuransi akan hilang. Ya, hilang, buat bayar asuransi. Sebaliknya, investasi adalah menumpuk uang. Setiap rupiah yang kita setorkan akan dikumpulkan dan diinvestasikan dengan harapan akan mendapatkan keuntungan di masa mendatang.

Nah, ketika nasabah membeli produk asuransi unitlinked, artinya uang premi yang kita bayarkan akan dibagi dua. Sebagian uang akan ‘hilang’ untuk membayar asuransi, sebagian lainnya akan terus disimpan dan diinvestasikan.

Dalam kasus Mas Slam, misalnya, uang premi senilai Rp300.000 yang disetorkan setiap bulan tidak serta merta dapat dihitung dengan formula Rp300.000 x 12 bulan x 5 tahun = Rp18 juta. Tidak bisa begitu, karena ada sebagian dari Rp300.000 itu yang ‘hilang’ untuk membayar fungsi perlindungan asuransi.

Itu yang seringkali tidak dipahami oleh nasabah asuransi unitlinked. Akibatnya, banyak nasabah yang merasa ditipu dan dirugikan.

Selain itu, masih ada satu hal lagi yang perlu dipertimbangkan, yakni soal hasil investasi. Saat berpromosi, sales asuransi biasanya akan menjelaskan potensi keuntungan yang bisa didapatkan dengan berinvestasi melalui unitlinked. Akan ada ilustrasi yang dijabarkan, setelah sekian tahun akan segini, segini, segini. Yang perlu diingat, itu hanyalah ilustrasi. Tidak ada satu orang pun yang bisa menjamin hasil investasi.

Faktanya, hasil investasi bisa lebih lebih tinggi dari ilustrasi, bisa juga lebih rendah. Jadi, jangan pernah menuntut perusahaan asuransi ketika hasil investasi ‘tidak sesuai dengan gambaran yang ada di brosur’. Ya, namanya juga ilustrasi….

Produk asuransi unitlinked memang tidak sederhana. Oleh karena itu, tenaga pemasar asuransi juga harus melalui ujian sertifikasi agar mendapatkan izin untuk memasarkan produk ini. Agar tidak ada salah persepsi. Tapi faktanya, masih banyak sekali nasabah yang belum benar-benar paham, termasuk suami saya.

“Andaikan dulu sales menjelaskan dengan gamblang bahwa ada sebagian dana yang dipotong untuk asuransi kan tidak nyesek, karena sejak awal sudah tahu,” kata suami saya.

Ah, Mas, andaikan kita bertemu lebih awal ya… 😀

BPJS Kesehatan Untung Rp13,4 Triliun?

Tips Memahami Polis Asuransi Unitlinked

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *